Kamis, 01 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY 1

Materi pertama di kelas Bunda Sayang adalah tentang Komunikasi Produktif baik kepada anak maupun kepada anggota keluarga lain (untuk saya pada suami). Well, materi ini sudah pernah saya dapatkan sekilas dalam salah satu sharing session bersama teman Psikolog di kota saya atas inisiasi dari teman-teman IIP juga. Saat mendapatkan materi itu, saya manggut-manggut dan dalam hati, ntar coba ah di rumah komprod sama suami dan anak-anak. Eng ing eng, ternyata eh ternyata bertahan 1 apa 2 hari gitu ya waktu itu, penyebabnya banyak faktor yang saya sadari berasal dari diri saya sendiri dan sebagian lagi dari suami. 
Nah karena pada kelas Bundsay kali ini komprod adalah materi pertama dan ada tantangan di dalamnya, maka dalam benak saya, kayanya lebih mudah dan terarah deh karena ada tabel khusus sebagai panduan untuk melaksanakan komprod. Lagi, 'kenyataan tak seindah angan-angan', hari ini hari pertama saya merasa GAGAL  dalam menerapkan komunikasi produktif dengan suami.
Begini kejadiannya, saya memiliki asma dan alergi sehingga sering mengalami sesak nafas dan tadi pagi dini hari, sebelum sahur sesak nafas saya kambuh padahal nebulizer portable belum terbeli karena satu dan lain hal dalam skala prioritas kebutuhan kami. Alhamdulillah tadi di sekolah saya mendapatkan arisan, sehingga memungkinkan sekali untuk segera membeli nebulizer. Pulang sekolah saya sampaikan ke suami kalau mau beli sendiri nebulizer, karena saya takut sesak nafas lagi seperti semalam, meski tidak sampai ke UGD seperti beberapa minggu sebelumnya, tapi sesak nafas itu sangat sangat menyiksa. Suami menjawab, kita survey aja dulu ya, kalau ada yang cocok baru dibeli. Di sini emosi negatif saya kembali bekerja, 
" Lho kok pakai survey segala sih, ya langsung beli aja" jawab saya ngambek
" Lha kalo langsung beli buru-buru gegabah nanti ada nggak cocoknya nyesel, kan bukan barang murah" kata suami saya sambil tetap memegang ponselnya (hal saya sebel klo lagi diajak ngomong pegang HP, sudah sering saya ingatkan soal ini padahal)
" Kan aku beli pakai uangku sendiri, nggak minta dibeliin" langsung ngeloyor kamar mandi buat ngadem, daripada makin baper dan emosi tak terkendali
Selesai mandi, saya sholat dan beraktivitas dalam diam, kan ngambek ceritanya. Lalu suami bilang, "aku lho mau belikan tapi nggak bilang-bilang karena memang masih survey di OS, kok tadi bilang mau beli sendiri kaya aku nggak mau belikan?"
" kan mas nggak bilang kalau mau beliin, makanya aku mau beli sendiri"
" aku nggak bilang karena kan bunda kalo dijanjiin sesuatu nggak bisa sabar nunggu, pasti ngrengek buat buruan beliin, sama kaya alesha kalo dijanjiin"
" Ya nggaklah, lihat sikon dong, masak aku disamain sama alesha, yg iya alesha yang kaya aku, kan aku ibunya dan dia anakku" jawabku masih jutek
" Ya udah, habis ashar nanti kita ke apotek cari nebulizer, terserah ke mana aku anter"
" Nggak, aku mau pergi sendiri, cari sendiri" jawabku
" Hujan, nggak boleh pergi sendiri, aku anterin, titik"  lalu suami ke kamar mandi untuk mandi.

Duh, kalo diinget lagi nyeseeel banget, asli, suer nggak bohong. Kenapa sih saya kok kaya gitu, manajemen emosi masih sangat-sangat kurang. Pada anak masih bisa menahan dan mengontrol emosi negatif tapi pada suami kok susah banget gitu ya? (tanya pada diri sendiri). Padahal suami itu tipekal yang super sabar dan penyayang menghadapi saya yang cenderung manja dan egois (di rumah, padahal kalau di luar rumah saya cukup mandiri).
Clear and Clarify yang dilakukan suami saya seharusnya sudah cukup jelas, hanya di timing yang terlambat, sehingga menimbulkan kesalahpaham saya dan memicu emosi negatif saya. 
Kesimpulannya, hari ini masih ZONK alias belum tercapai poin clear & clarify yang ingin saya terapkan secara konsisten pada suami dalam sepuluh hari ini. Bismillah, niat sungguh-sungguh semoga besok dapat tercapai hasil terbaik dari komprod, utamanya poin clear and clarify

Jombang, 1 Juni 2017

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar