Sabtu, 10 Juni 2017

Tangan Kelas Bunda Sayang #Day10


Jombang, 10 Juni 2017

Kepada kedua anak saya, saya membiasakan mereka dengan tugas-tugas kecil di rumah sesuai dengan kemampuan mereka, misal membuang sampah pada tempatnya, membantu bunda mencuci piring dan gelas plastik, mengambilkan sandal saat bunda selesai berwudlu, mematikan kipas angin, mengambilkan ini itu, dll.
Ucapan terima kasih, pujian dan kritikan adalah evaluasi yang biasa saya berikan pada tugas yang saya berikan pada anak-anak baik pada kakak maupun adik. Porsi yang paling banyak adalah ucapan terim kasih dan pujian untuk membangkitkan semangat, rasa percaya diri dan penghargaan saya terhadap mereka. Kritikan kadang saya berikan pada kakak alesha karena dia sudah dapat mencerna dengan baik penjelasan saya tentang sesuatu. Misal : saat kakak membantu saya mencuci piring dan gelas plastik, saya memberinya contoh terlebih dahulu baru dia eksekusi, nah ketika ada proses yang kurang pas sehingga hasil kurang bersih, maka dengan perlahan saya berikan kritik yang membangun, misalnya : kakak, guyur airnya harus lebih lama ya supaya bekas sabunnya hilang semua atau kakak supaya sabunnya benar-benar hilang harus diapakan ya? kok ini masih licin ya? biasanya dia akan tanggap dg menjawab : oh itu kurang bersih membilasnya kayanya bunda, sini kuulang lagi bilasnya.
Goodgirls, my lovely girls, Alesha dan Altaira.
Adek sudah mulai meniru kakaknya ingin membantu mencuci piring tapi belum saya beri kesempatan karena tangannya belum bisa menjangkau kran di wastafel. Mungkin baru liburan besok ini, coba akan saya beri bak cuci piring di bawah, supaya bisa dengan duduk di kursi plastik belajar mencuci piringnya :)

#level1
#day10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Tantangan Kelas Bunda Sayang #Day9

Jumat, 9 Juni 2017

Hari ini saya dan suami masing-masing ada acara rapat dan buka bersama di sekolah masing-masing. Timbul masalah, apakah anak-anak mau ditinggal dengan tante dan omnya serta mbah kung dan mbah utinya? jawabnya tentu tidak, artinya selain kepergian kami di pagi hari hingga siang hari pada hari-hari kerja mereka pasti maunya IKUT.TITIK. Saya mencoba memberi kakak pengertian bahwa sekolah bunda jauh dan pulangnya habis maghrib jadi gelap, bunda kuatir klo bonceng kakak di malam hari, apalagi bunda berangkat sendiri, lagian adek di rumah sendiri sam tante om kan kasian.
Kakak masih bersikukuh ingin ikut bunda atau ayah ke sekolah, kemudian bunda memberi kakak pilihan, kakak ikut dengan bunda tapi tidka boleh rewel dan ngajakin pulang sebelum acara selesai atau kakak di rumah aja tapi bunda belikan es krim? dan kakak memilih es krim tapi dengan syarat : bunda harus segera pulang setelah buka bersama. Ok dear, deal ya....

Ya, tidak hanya orang dewasa, anak-anakpun bisa memilih meski seringnya pilihan mereka masih berdasarkan emosional semata, tapi komprod dengan memberikan pilihan bisa jadi pilihan jika anak sudah cukup usia dan dapat diajak berkomunikasi 2 arah

#level1
#day9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Tantangan Kelas Bunda Sayang #Day8

Jombang, 8 Juni 2017
Dari banyak poin dalam komunikasi produktif dengan anak-anak, yang sering saya coba terapkan adalah : mengendalikan emosi dan intonasi suara yang ramah pada anak. Kebetulan saya memiliki 2 orang anak dengan jarak usia 23 bulan, sehingga sangat besar kemungkinan mereka untuk bertengkar, berebut mainan atau saya dan hal-ahal ajaib lainnya khas anak-anak. Jujur saya bukan tipekal orang yang sabar dan telaten, tapi dengan anak saya bisa berubah menjadi lebih sabar dan telaten, tapi dalam batas tertentu. Saya jua tipekal orang yang kurang bisa mentolelir kerusuhan atau kekotoran atau ketidakrapian yang di luar batas, sehingga terhadap anak-anak saya belajar buat rules yang jelas tentang boleh bermain di mana dan apa saja. Zona bermain boleh berantakan seperti kapal karam dan pecah, tapi selain itu tidak boleh ata harus diminimalisir.

* Kakak alesha tipekal anak yang sangat peka atau halus perasaannya, dengan perubahan nada bicara dan raut wajah saya saja dia sudah menyadari kalau ada yang salah atau ada yang saya kurang suka sehingga dia akan buru-buru bertanya :
"bunda marah sama aku?" atau " maaf bunda, aku salah ya?"
Di saat seperti itu saya akan menjawab : " nggak kak, bunda cuma pengen kakak dan adek mau dengerin bunda meski bunda bicara pelan"
" Kakak mau dengerin bunda?"
" Iya bunda mau, tapi jangan marah-marah ya?"
" Iya sayang" 
Di situ saya merasa "NYESS" di hati, ada sesal dan sesal dalam hati kenapa emosi negatif saya sampai terbaca oleh anak.

*Adek Aira, tipekal anak kinestetik yang tidak bisa diam dalam kurun waktu  lama, ada saja ulah dan tingkah polahnya yang bikin spot jantung, mulai dari memanjat sana sini, lari sana sini, berantakin ini itu, dll. Kepekaan perasaannya belum tampak seperti si kakak, tapi adek juga sudah tumbuh rasa empatinya. Adek mulai bisa diberi petunjuk atau arahan tentang suatu prosedur. berkomunikasi dengan adik tidak cukup hanya dengan kata-kata tapi juga praktek, maka barulah dia akan mengikuti.

#level1
#day8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan Kelas Bunda Sayang #Day 7

Rabu, 7 Juni 2017 
Hari ini berjalan biasa saja, hampir tanpa selisih paham atau perdebatan berarti antara saya dan suami. Selain sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami juga sedang dalam kondisi good mood sehingga komprod dalam berjalan lancar tanpa hambatan berarti


#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tantangan Kelas Bunda Sayang #Day 6

Selasa, 6 Juni 2017
Sampai hari ke-6 ini saya masih fokus pada poin 'Clear dan Clarify' dalam komprod dengan suami, karena memang seringnya komunikasi kami kurang produktif karena kurang jelasnya (clear) topik bahasan dan tidak segera terklarifikasinya (clarify) hal-hal yang menimbulkan kesalahpahaman.
Hari ini, dini hari menjelang sahur saya kembali sesak nafas tak tertahankan sehingga saya sepertinya butuh dinebul. Setelah beberapa saat sesak nafas di hadapan suami, dia lempeng aja, nggak segera bertindak menyiapkan nebulizer, dia hanya memandangi saya dengan bingung. Andai tidak dalam keadaan sesak tentu saya sudah marah, kok bisa udah tahu saya sesak kok nggak ditawari disiapkan nebul atay diambilkan ventolin spray atau obat sesak atau apalah lainnya. Jadi suami saya yang super sabar dan penyayang itu, sangat sangat minim inisiaif dalam banyak hal, termasuk menghadapi situasi darurat. Alhasil saya memberi isyarat untuk disiapkan nebulizer, barulah suami bergerak menyiapkan. 
Setelah reda sesak nafas saya, suami saya tanya, tadi semisal bunda nggak minta disiapkan nebulizer ayah ada inisiatif nggak ngliat bunda megap2 sesak kaya tadi? jawabnya : kepikiran sih, tapi kuatir salah :( helooo, gemes kan? Ok kemudian saya jelaskan baiknya kalo saya sesak nafas tlg berikan saya pertolongan segera atau tanyakan kira2 apa yang saya mau, apakah diambilkan obat, ventolin spray atau nebulizer.
Kesimpulan hari ini, komprod tidak sukses tapi juga tidak gagal, masih setengah jalan :) Bismillah semgoga semakin baik di hari selanjutnya

#level1
#day6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundsayiip

Kamis, 08 Juni 2017

Tantangan Kelas Bundsay #Day 5

Tantangan Hari ke-5, Senin, 5 Juni 2017.
I hate monday adalah slogan yang sering kita dengar karena Senin adalah hari pertama setelah libur, hehe. Tapi bagi saya tidak selalu demikian, yang jelas Senin adalah hari yang terasa sibuk karena mengawali aktivitas rutin (pekerjaan) setelah libur. Pagi saya bisanya sudah lapor ke suami rencana aktivitas hari ini apa saja dan suami yang santai biasanya iya-iya aja tapi ntar lupa saya sudah ngomong apa. Misal :  Yah, nanti Bunda di sekolah sampai jam 1 lewat kayanya karena harus ngerjain tugas dan jam 10 ada rapim jg, jadi nanti emak suruh pulang aja, mas yang handle anak-anak kalau sudah pulang kantor bisa kan?" seringnya suami akan jawab "Ya", tapi jam 1 wa : Bunda, kok belum pulang, emak gimana ini? disuruh pulang aja apa gimana? :(

Karena ada tantang komprod di BundSay ini, saya belajar (meski sedikit demi sedikit banget mengingat tipekal saya yang kurang sabaran dan mudah 'gemes'), mengubah kalimat saya menjadi beberapa kalimat pendek, seperti :
" Ayah, nanti bunda boleh pulang telat?" pertanyaan pancingan
" Kenapa?" 
" Ada rapim jam 10, jelas molor dan lama biasanya" jawabku
" Oke, boleh aja. Trs emak nunggu sampai bunda pulang apa giman?" tanya suami
" Ya kalau ayah udah di rumah dan bisa handle anak-anak, emak pulang gpp" jawab saya
" Iya"
Jadi kalimat pendek-pendek lebih efektif daripada kalimat panjang, hehe. Clear and clarify di awal sangat efektif untuk komprod saya dan suami.

Elok Wardaniyah
Jombang, 8 Juni 2017


#level1
#day5
#tantangan10hari
#kumunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Tantangan Kelas Bunsay #Day4

Minggu, 4 Juni 2017 kemarin menjadi family day buat kami. Kami berempat formasi lengkap di rumah saja, dari pagi sampai menjelang siang kami berempat bermain bersama, eh tidak selalu sih, ada kalanya ayah yang menemani kakak alesha dan adik aira bermain, sementara bunda melakukan aktivitas lain, demikian juga sebaliknya. Kalau biasanya bunda suka uring-uringan karena Ayah kurang fokus saat dengan anak-anak, misal asyik dengan HPnya, tidak segera menjawab ketika anak-anak bertanya, minggu kemarin kejadian itu terminimalisir dengan cukup baik. Hal ini karena di pagi hari (awal) bunda sudah warning, Ayah mumpung di rumah aja, temani anak-anak bermain ya....HP nya jangan dibawa terus, ayah menjawab : Siap, Bunda :)
Mengingat sendiri dan belajar menyadari bahwa segala sesuatu kalau disampaikan jelas di awal memang tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Yang jadi masalah adalah, saya ingin sekali menyampaikan sekali diingat selamanya, sedangkan suami tipekal sekali ngomong ya untuk saat itu, alhasil kesannya saya cerewet karena harus mengulang perkataan yang sama setiap harinya tentang 'membersamai' anak-anak dan hal-hal lainnya. Tapi, pagi ini kembali saya mencoba 'clear and clarify di awal situasi sehingga tidak menimbulkan 'kejengkelan' di hati pada semuanya.
Konlusinya, Happy Sunday :)


elok wardaniyah
Jombang, 8 Juni 2017 (latepost)

#level1
#day4
#tantangan10hari
#kumunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Sabtu, 03 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY3

Hari ketiga Tantangan Kelas Bunda Sayang dengan tema Komunikasi Produktif mulai terasa perubahannya. Tekad saya adalah memperbaiki diri, terutama dalam komukasi dengan suami yang memang berbeda sifat, didikan dan cara pandangnya, saya khas makhluk Venus dan dia sama persis seperti umumnya makhluk Mars (mengutip istilah John Gray sih ini, hihihi)

Hari ini, komprod saya dengan suami alhamdulillah bagus (berhasil) juga, intinya adalah menahan diri dan menyadari dengan siapa saya berkomunikasi. Jika dengan suami, maka harus menggunakan kalimat  pendek-pendek alias to the point. Jika dengan anak, maka harus memposisikan diri saya sebagai anak-anak, maka saya harus menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dimengerti oleh anak-anak dan pendek-pendek juga.


Jombang, 3 Juni 2017


#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 02 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY2

Tantangan hari kedua dan ketiga baru sempat tertuliskan hari ini karena hari kedua kemarin, berlangsung kurang lebih seperti hari pertama, masih baper saya, jadilah masih terjadi selisih paham di pagi hari, tapi alhamdulillahnya sore sampai malam komprod antara saya dan suami dapat berjalan baik. Clear and clarify dapat saya terapkan, ternyata ngomong sama makhluk Mars itu nggak boleh panjang-panjang, harus secukupnya aja dan to the point, tanpa perlu prolog atupun epilog, hehe.
Sore kemarin, kami rencanakan akan pergi ke rumah ortu saya untuk berbuka di sana karena suami ada rapat plus buka bersama di sekolahnya, tetapi hujan turun deras sehingga kami mager sambil menunggu hujan reda. Begini percakapan kami :
" Rapatnya penting lho bund ini, gimana ini ya enaknya"
" Ya berangkat aja gpp pake jas hujan"
" Trs bunda bukanya gimana sama anak-anak bisa?"
" Bisa insyaallah"
" Trs beli lauknya bunda gimana?"
" ya nanti anak-anak aku titip tantenya dulu sebentar buat beli lauk buka"
" Makasih ya bunda" 
 Ternyata beberapa menit kemudian hujan reda dan jadilah kami berangkat ke rumah ortu berempat, saya dan anak-anak berbuka di rumah ortu dan suami lanjut ke sekolahnya.

Happy ending ternyata ya klo komunikasi produktif dapat berjalan clear and clarify.

Mungkin jika saya tidak berusaha menerapkan komprod saya, dialog di atas akan menjadi begini :
A   : "Rapatnya penting lho bund, gimana ini enaknya"
B   : "Lha gimana dong, hujan gini kan, ke rumah ibu nggak mungkin kasian anak-anak klo kehujanan, trs aku berbuka handle anak2 sendiri yang iya nggak bisa berbuka dong"
A   : "Ya udah ayah wa di grup sekolah izin nggak datang aja"
B   : Iya, gitu aja, bilang di sini hujan deras, jadi basah kuyup sampai sana meski pakai jas hujan, lagian nggak bisa ninggal istri sama anak-anak sendiri di rumah, karena nggak bisa berbuka ntar, nggak ada yang handle anak-anak gantian kan?"

we o we banget ya ternyata perubahan hasil dari komprod. 
Bismillah semoga selanjutnya bisa konsisten saya terapkan komprod ini, aamiin.

#LEVEL1
#DAY2
#TANTANGAN10HARI
#KOMUNIKASIPRODUKTIF
#KULIAHBUNSAYIIP

Kamis, 01 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY 1

Materi pertama di kelas Bunda Sayang adalah tentang Komunikasi Produktif baik kepada anak maupun kepada anggota keluarga lain (untuk saya pada suami). Well, materi ini sudah pernah saya dapatkan sekilas dalam salah satu sharing session bersama teman Psikolog di kota saya atas inisiasi dari teman-teman IIP juga. Saat mendapatkan materi itu, saya manggut-manggut dan dalam hati, ntar coba ah di rumah komprod sama suami dan anak-anak. Eng ing eng, ternyata eh ternyata bertahan 1 apa 2 hari gitu ya waktu itu, penyebabnya banyak faktor yang saya sadari berasal dari diri saya sendiri dan sebagian lagi dari suami. 
Nah karena pada kelas Bundsay kali ini komprod adalah materi pertama dan ada tantangan di dalamnya, maka dalam benak saya, kayanya lebih mudah dan terarah deh karena ada tabel khusus sebagai panduan untuk melaksanakan komprod. Lagi, 'kenyataan tak seindah angan-angan', hari ini hari pertama saya merasa GAGAL  dalam menerapkan komunikasi produktif dengan suami.
Begini kejadiannya, saya memiliki asma dan alergi sehingga sering mengalami sesak nafas dan tadi pagi dini hari, sebelum sahur sesak nafas saya kambuh padahal nebulizer portable belum terbeli karena satu dan lain hal dalam skala prioritas kebutuhan kami. Alhamdulillah tadi di sekolah saya mendapatkan arisan, sehingga memungkinkan sekali untuk segera membeli nebulizer. Pulang sekolah saya sampaikan ke suami kalau mau beli sendiri nebulizer, karena saya takut sesak nafas lagi seperti semalam, meski tidak sampai ke UGD seperti beberapa minggu sebelumnya, tapi sesak nafas itu sangat sangat menyiksa. Suami menjawab, kita survey aja dulu ya, kalau ada yang cocok baru dibeli. Di sini emosi negatif saya kembali bekerja, 
" Lho kok pakai survey segala sih, ya langsung beli aja" jawab saya ngambek
" Lha kalo langsung beli buru-buru gegabah nanti ada nggak cocoknya nyesel, kan bukan barang murah" kata suami saya sambil tetap memegang ponselnya (hal saya sebel klo lagi diajak ngomong pegang HP, sudah sering saya ingatkan soal ini padahal)
" Kan aku beli pakai uangku sendiri, nggak minta dibeliin" langsung ngeloyor kamar mandi buat ngadem, daripada makin baper dan emosi tak terkendali
Selesai mandi, saya sholat dan beraktivitas dalam diam, kan ngambek ceritanya. Lalu suami bilang, "aku lho mau belikan tapi nggak bilang-bilang karena memang masih survey di OS, kok tadi bilang mau beli sendiri kaya aku nggak mau belikan?"
" kan mas nggak bilang kalau mau beliin, makanya aku mau beli sendiri"
" aku nggak bilang karena kan bunda kalo dijanjiin sesuatu nggak bisa sabar nunggu, pasti ngrengek buat buruan beliin, sama kaya alesha kalo dijanjiin"
" Ya nggaklah, lihat sikon dong, masak aku disamain sama alesha, yg iya alesha yang kaya aku, kan aku ibunya dan dia anakku" jawabku masih jutek
" Ya udah, habis ashar nanti kita ke apotek cari nebulizer, terserah ke mana aku anter"
" Nggak, aku mau pergi sendiri, cari sendiri" jawabku
" Hujan, nggak boleh pergi sendiri, aku anterin, titik"  lalu suami ke kamar mandi untuk mandi.

Duh, kalo diinget lagi nyeseeel banget, asli, suer nggak bohong. Kenapa sih saya kok kaya gitu, manajemen emosi masih sangat-sangat kurang. Pada anak masih bisa menahan dan mengontrol emosi negatif tapi pada suami kok susah banget gitu ya? (tanya pada diri sendiri). Padahal suami itu tipekal yang super sabar dan penyayang menghadapi saya yang cenderung manja dan egois (di rumah, padahal kalau di luar rumah saya cukup mandiri).
Clear and Clarify yang dilakukan suami saya seharusnya sudah cukup jelas, hanya di timing yang terlambat, sehingga menimbulkan kesalahpaham saya dan memicu emosi negatif saya. 
Kesimpulannya, hari ini masih ZONK alias belum tercapai poin clear & clarify yang ingin saya terapkan secara konsisten pada suami dalam sepuluh hari ini. Bismillah, niat sungguh-sungguh semoga besok dapat tercapai hasil terbaik dari komprod, utamanya poin clear and clarify

Jombang, 1 Juni 2017

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip