Kamis, 08 Juni 2017

Tantangan Kelas Bundsay #Day 5

Tantangan Hari ke-5, Senin, 5 Juni 2017.
I hate monday adalah slogan yang sering kita dengar karena Senin adalah hari pertama setelah libur, hehe. Tapi bagi saya tidak selalu demikian, yang jelas Senin adalah hari yang terasa sibuk karena mengawali aktivitas rutin (pekerjaan) setelah libur. Pagi saya bisanya sudah lapor ke suami rencana aktivitas hari ini apa saja dan suami yang santai biasanya iya-iya aja tapi ntar lupa saya sudah ngomong apa. Misal :  Yah, nanti Bunda di sekolah sampai jam 1 lewat kayanya karena harus ngerjain tugas dan jam 10 ada rapim jg, jadi nanti emak suruh pulang aja, mas yang handle anak-anak kalau sudah pulang kantor bisa kan?" seringnya suami akan jawab "Ya", tapi jam 1 wa : Bunda, kok belum pulang, emak gimana ini? disuruh pulang aja apa gimana? :(

Karena ada tantang komprod di BundSay ini, saya belajar (meski sedikit demi sedikit banget mengingat tipekal saya yang kurang sabaran dan mudah 'gemes'), mengubah kalimat saya menjadi beberapa kalimat pendek, seperti :
" Ayah, nanti bunda boleh pulang telat?" pertanyaan pancingan
" Kenapa?" 
" Ada rapim jam 10, jelas molor dan lama biasanya" jawabku
" Oke, boleh aja. Trs emak nunggu sampai bunda pulang apa giman?" tanya suami
" Ya kalau ayah udah di rumah dan bisa handle anak-anak, emak pulang gpp" jawab saya
" Iya"
Jadi kalimat pendek-pendek lebih efektif daripada kalimat panjang, hehe. Clear and clarify di awal sangat efektif untuk komprod saya dan suami.

Elok Wardaniyah
Jombang, 8 Juni 2017


#level1
#day5
#tantangan10hari
#kumunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Tantangan Kelas Bunsay #Day4

Minggu, 4 Juni 2017 kemarin menjadi family day buat kami. Kami berempat formasi lengkap di rumah saja, dari pagi sampai menjelang siang kami berempat bermain bersama, eh tidak selalu sih, ada kalanya ayah yang menemani kakak alesha dan adik aira bermain, sementara bunda melakukan aktivitas lain, demikian juga sebaliknya. Kalau biasanya bunda suka uring-uringan karena Ayah kurang fokus saat dengan anak-anak, misal asyik dengan HPnya, tidak segera menjawab ketika anak-anak bertanya, minggu kemarin kejadian itu terminimalisir dengan cukup baik. Hal ini karena di pagi hari (awal) bunda sudah warning, Ayah mumpung di rumah aja, temani anak-anak bermain ya....HP nya jangan dibawa terus, ayah menjawab : Siap, Bunda :)
Mengingat sendiri dan belajar menyadari bahwa segala sesuatu kalau disampaikan jelas di awal memang tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Yang jadi masalah adalah, saya ingin sekali menyampaikan sekali diingat selamanya, sedangkan suami tipekal sekali ngomong ya untuk saat itu, alhasil kesannya saya cerewet karena harus mengulang perkataan yang sama setiap harinya tentang 'membersamai' anak-anak dan hal-hal lainnya. Tapi, pagi ini kembali saya mencoba 'clear and clarify di awal situasi sehingga tidak menimbulkan 'kejengkelan' di hati pada semuanya.
Konlusinya, Happy Sunday :)


elok wardaniyah
Jombang, 8 Juni 2017 (latepost)

#level1
#day4
#tantangan10hari
#kumunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Sabtu, 03 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY3

Hari ketiga Tantangan Kelas Bunda Sayang dengan tema Komunikasi Produktif mulai terasa perubahannya. Tekad saya adalah memperbaiki diri, terutama dalam komukasi dengan suami yang memang berbeda sifat, didikan dan cara pandangnya, saya khas makhluk Venus dan dia sama persis seperti umumnya makhluk Mars (mengutip istilah John Gray sih ini, hihihi)

Hari ini, komprod saya dengan suami alhamdulillah bagus (berhasil) juga, intinya adalah menahan diri dan menyadari dengan siapa saya berkomunikasi. Jika dengan suami, maka harus menggunakan kalimat  pendek-pendek alias to the point. Jika dengan anak, maka harus memposisikan diri saya sebagai anak-anak, maka saya harus menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang mudah dimengerti oleh anak-anak dan pendek-pendek juga.


Jombang, 3 Juni 2017


#level1
#day3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Jumat, 02 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY2

Tantangan hari kedua dan ketiga baru sempat tertuliskan hari ini karena hari kedua kemarin, berlangsung kurang lebih seperti hari pertama, masih baper saya, jadilah masih terjadi selisih paham di pagi hari, tapi alhamdulillahnya sore sampai malam komprod antara saya dan suami dapat berjalan baik. Clear and clarify dapat saya terapkan, ternyata ngomong sama makhluk Mars itu nggak boleh panjang-panjang, harus secukupnya aja dan to the point, tanpa perlu prolog atupun epilog, hehe.
Sore kemarin, kami rencanakan akan pergi ke rumah ortu saya untuk berbuka di sana karena suami ada rapat plus buka bersama di sekolahnya, tetapi hujan turun deras sehingga kami mager sambil menunggu hujan reda. Begini percakapan kami :
" Rapatnya penting lho bund ini, gimana ini ya enaknya"
" Ya berangkat aja gpp pake jas hujan"
" Trs bunda bukanya gimana sama anak-anak bisa?"
" Bisa insyaallah"
" Trs beli lauknya bunda gimana?"
" ya nanti anak-anak aku titip tantenya dulu sebentar buat beli lauk buka"
" Makasih ya bunda" 
 Ternyata beberapa menit kemudian hujan reda dan jadilah kami berangkat ke rumah ortu berempat, saya dan anak-anak berbuka di rumah ortu dan suami lanjut ke sekolahnya.

Happy ending ternyata ya klo komunikasi produktif dapat berjalan clear and clarify.

Mungkin jika saya tidak berusaha menerapkan komprod saya, dialog di atas akan menjadi begini :
A   : "Rapatnya penting lho bund, gimana ini enaknya"
B   : "Lha gimana dong, hujan gini kan, ke rumah ibu nggak mungkin kasian anak-anak klo kehujanan, trs aku berbuka handle anak2 sendiri yang iya nggak bisa berbuka dong"
A   : "Ya udah ayah wa di grup sekolah izin nggak datang aja"
B   : Iya, gitu aja, bilang di sini hujan deras, jadi basah kuyup sampai sana meski pakai jas hujan, lagian nggak bisa ninggal istri sama anak-anak sendiri di rumah, karena nggak bisa berbuka ntar, nggak ada yang handle anak-anak gantian kan?"

we o we banget ya ternyata perubahan hasil dari komprod. 
Bismillah semoga selanjutnya bisa konsisten saya terapkan komprod ini, aamiin.

#LEVEL1
#DAY2
#TANTANGAN10HARI
#KOMUNIKASIPRODUKTIF
#KULIAHBUNSAYIIP

Kamis, 01 Juni 2017

TANTANGAN KELAS BUNDSAY #DAY 1

Materi pertama di kelas Bunda Sayang adalah tentang Komunikasi Produktif baik kepada anak maupun kepada anggota keluarga lain (untuk saya pada suami). Well, materi ini sudah pernah saya dapatkan sekilas dalam salah satu sharing session bersama teman Psikolog di kota saya atas inisiasi dari teman-teman IIP juga. Saat mendapatkan materi itu, saya manggut-manggut dan dalam hati, ntar coba ah di rumah komprod sama suami dan anak-anak. Eng ing eng, ternyata eh ternyata bertahan 1 apa 2 hari gitu ya waktu itu, penyebabnya banyak faktor yang saya sadari berasal dari diri saya sendiri dan sebagian lagi dari suami. 
Nah karena pada kelas Bundsay kali ini komprod adalah materi pertama dan ada tantangan di dalamnya, maka dalam benak saya, kayanya lebih mudah dan terarah deh karena ada tabel khusus sebagai panduan untuk melaksanakan komprod. Lagi, 'kenyataan tak seindah angan-angan', hari ini hari pertama saya merasa GAGAL  dalam menerapkan komunikasi produktif dengan suami.
Begini kejadiannya, saya memiliki asma dan alergi sehingga sering mengalami sesak nafas dan tadi pagi dini hari, sebelum sahur sesak nafas saya kambuh padahal nebulizer portable belum terbeli karena satu dan lain hal dalam skala prioritas kebutuhan kami. Alhamdulillah tadi di sekolah saya mendapatkan arisan, sehingga memungkinkan sekali untuk segera membeli nebulizer. Pulang sekolah saya sampaikan ke suami kalau mau beli sendiri nebulizer, karena saya takut sesak nafas lagi seperti semalam, meski tidak sampai ke UGD seperti beberapa minggu sebelumnya, tapi sesak nafas itu sangat sangat menyiksa. Suami menjawab, kita survey aja dulu ya, kalau ada yang cocok baru dibeli. Di sini emosi negatif saya kembali bekerja, 
" Lho kok pakai survey segala sih, ya langsung beli aja" jawab saya ngambek
" Lha kalo langsung beli buru-buru gegabah nanti ada nggak cocoknya nyesel, kan bukan barang murah" kata suami saya sambil tetap memegang ponselnya (hal saya sebel klo lagi diajak ngomong pegang HP, sudah sering saya ingatkan soal ini padahal)
" Kan aku beli pakai uangku sendiri, nggak minta dibeliin" langsung ngeloyor kamar mandi buat ngadem, daripada makin baper dan emosi tak terkendali
Selesai mandi, saya sholat dan beraktivitas dalam diam, kan ngambek ceritanya. Lalu suami bilang, "aku lho mau belikan tapi nggak bilang-bilang karena memang masih survey di OS, kok tadi bilang mau beli sendiri kaya aku nggak mau belikan?"
" kan mas nggak bilang kalau mau beliin, makanya aku mau beli sendiri"
" aku nggak bilang karena kan bunda kalo dijanjiin sesuatu nggak bisa sabar nunggu, pasti ngrengek buat buruan beliin, sama kaya alesha kalo dijanjiin"
" Ya nggaklah, lihat sikon dong, masak aku disamain sama alesha, yg iya alesha yang kaya aku, kan aku ibunya dan dia anakku" jawabku masih jutek
" Ya udah, habis ashar nanti kita ke apotek cari nebulizer, terserah ke mana aku anter"
" Nggak, aku mau pergi sendiri, cari sendiri" jawabku
" Hujan, nggak boleh pergi sendiri, aku anterin, titik"  lalu suami ke kamar mandi untuk mandi.

Duh, kalo diinget lagi nyeseeel banget, asli, suer nggak bohong. Kenapa sih saya kok kaya gitu, manajemen emosi masih sangat-sangat kurang. Pada anak masih bisa menahan dan mengontrol emosi negatif tapi pada suami kok susah banget gitu ya? (tanya pada diri sendiri). Padahal suami itu tipekal yang super sabar dan penyayang menghadapi saya yang cenderung manja dan egois (di rumah, padahal kalau di luar rumah saya cukup mandiri).
Clear and Clarify yang dilakukan suami saya seharusnya sudah cukup jelas, hanya di timing yang terlambat, sehingga menimbulkan kesalahpaham saya dan memicu emosi negatif saya. 
Kesimpulannya, hari ini masih ZONK alias belum tercapai poin clear & clarify yang ingin saya terapkan secara konsisten pada suami dalam sepuluh hari ini. Bismillah, niat sungguh-sungguh semoga besok dapat tercapai hasil terbaik dari komprod, utamanya poin clear and clarify

Jombang, 1 Juni 2017

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Rabu, 17 Mei 2017

AIRA ...GOTCHA


Rabu, 17 Mei 2017
Baru sempat tertulis setelah sekian lama 'kurang menyempatkan diri' untuk membuka blog dan menulisnya.

Saya sadar sepenuhnya kalau setiap anak unik dan berbeda, tidak boleh membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Tetapi ternyata itu adalah teori yang sungguh sulit penerapannya, karena meski sekuat hati menahan agar tak terucap, batin ini tetap berkata, haha.
Aira, selisih 23 bulan dengan kakaknya memang berbeda dengan kakaknya dalam banyak hal dan yang disadari oleh banyak orang adalah kemampuan lingustik mereka. Alesha sekitar usia 18 bulan sudah dapat bercerita (membuat kelimat-kalimat pendek yang rapi), sedangkan aira masih 2 kata saja sampai usianya 2 tahun bulan lalu, misal : buda maem (baca : bunda makan), buda pipis (baca : bunda pipis), dsb. Bulan ini 25 bulan usianya, dia sudah mulai bisa merangkai kata lebih dari 2 kata, yihaaaaa, rasanya senang luar biasa bundamu ini nak, karena bunda yakin setiap anak akan punya 'timing' sendiri-sendiri. Kalimat pertama aira adalah : adek ikuk bakung Allah (baca : adek ikut mbah kung Allah/sholat), lalu di susul : buda kakak ana ayek-ayek ( baca : bunda, kakak di sana sama arek-arek). Dengan semakin bertambahnya kemampuan bicara dan kosa katanya, alhamdulillah memudahkannya untuk diajak berkomunikasi. Sudah mulai kritis juga dalam menyikapi lingkungan.Setiap pagi kalau saya bersiap di depan cermin dia akan bertanya : buda mau olah? (baca : bunda mau sekolah), adek gak ikuk (baca : adek nggak ikut). Akan berbeda kalau saya bersiap di depan cermin sore atau malam hari, dia kana bertanya : buda mana? (baca : bunda mau ke mana?), kadang dia jawab sendiri : buda bowo (baca : bunda bowo?/kondangan maksudnya), hihihi, pokoknya lucu deh. Ada sih yang kadang saya maupun ayahnya belum bisa menangkap kata yang dia ucapkan tp rangkaian kata yang sudah dia susun menjadi kalimat itu progress yang luar biasa bagi kami dan dia akan berusaha menjelaskan maksudnya dengan tindakan jika kami tidak memahami maksudnya. Misal : buda @#$%^&*@#~^, kami akan balik bertanya, apa sih dek? dia akan menarik tangan kami, ayo buda nini (ayo bunda sini) menunjukkan benda/barang yang dimaksud, dll.
Yes, finally....aira gotcha, kamu mendapatkan 'timing' mu, Nak. Bunda dan Ayah love u so much

Jumat, 12 Mei 2017

Pra MM, sebuah Titik Balik

Bismillah, tanggal 24 Mei 2017 nanti tiba giliran saya sharing tentang Mind Maping saya. Untuk mengawali pengerjaan MM tersebut, alangkah baiknya jika saya membuat rencana terlebih dahulu, lalu  melaksanakannya baru kemudian menuliskannya menjadi MM saya.
Sebelum sampai pada rencana, saya ingin sedikit bercerita, peristiwa yang menjadikan saya seolah mengalami 'titik balik' dalam hidup saya. Sungguh rencana ini sudah tersusun dan terlaksana beberapa hari sebelum peristiwa tersebut terjadi. Minggu dini hari sekitar jam 1.30 saya mengalami sesak nafas, seperti biasa saya membangunkan suami untuk minta dipijat di bagian punggung dekat tulang belikat, yang biasanya dapat meredakan sesak nafas saya, 30 menit berlalu sesak nafas saya tak kunjung reda bahkan semakin parah, saya minumi obat sesak nafas dan anti alergi tidak memberikan efek berarti. Sambil menangis saya minta suami antar ke UGD, suami segera keluar rumah menuju rumah mertua yang alhamdulillah bersebelahan untuk meminta beliau menjaga anak-anak karena kami akan ke UGD. Jam 2 kami menuju UGD dalam waktu 15 menit, di jalan beberapa kali saya merasa sudah tidak kuat lagi rasanya, air mata terus mengalir mengingat anak-anak di rumah, istighfar terus terucap demi menebus dosa yang entah Allah maafkan atau tidak. Sampai di UGD saya terduduk di teras menunggu suami parkir motor. Petugas UGD membantu saya naik brankar dan memasang selang oksigen pada saya, dokter menanyai kapan saya terakhir dinebu, saya jawab kamis pagi, ventolin 1. Dokter stb memberi intruksi pada perawat, ventolin 2 segera. Perawat meminta saya rebahan tapi saya belum bisa karena sesak belum reda, beberap waktu kemudian barulah terasa reda/berkurang sesak nafas saya sehingga saya merebahkan diri karena lelah juga baru terasa. Sampai sekitar jam 4 barulah obatnya habis dan dokter mengizinkan pulang. Menembus dinginnya malam sepulang dari RS dengan nafas yang plong lega tetap membuat saya menangis, bagaimana tidak, ajal serasa dekat sekali tadi, beberapa jam lalu, yang membuat saya tak henti berucap syukur, Allah masih memberi saya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri.
Sejak peristiwa itu, saya benar-benar melaksanakan rencana-rencana saya, yaitu :
1. Sholat tepat waktu dan berjamaah dengan suami minimal di 2 waktu sholat (maghrib dan isya')
2. Membaca al-qur'an setiap selesai sholat, nantinya ingin ODOJ karena selama ini masih OWOJ
3. Membacakan surat-surat pendek pada anak-anak menjelang mereka tidur
4. Membuat agenda aktivitas kakak dan aktivitas adek, minimal 1-2 jam ada pembelajaran berarti
5. Membacakan buku untuk anak-anak minimal 10-15 menit
6. Membaca buku/artikel online minimal 30 menit dalam sehari
7. Membuat fliyer-fliyer iklan untuk menunjang profesi saya sebagai book advisor
8. Membuat 'Papan Pengingat' yang akan saya tempeli visi misi keluarga, harapan-harapan, tujuan yang ingin dicapai, perubahan-perubahan apa saja yang saya rencanakan (misal : tidak ngomel dalam sehari/tidak mengomel ketika ada anak-anak), mencoba memasak menu baru untuk anak-anak, tulisan pengingat agar saya sabar dalam menghadapi berbagai ulah anak-anak, dll)