Rabu, 21 Maret 2012
Sekolah yang Menyenangkan
Saat aku bertanya pada 'my little boy', "gimana sekolahnya hari ini?" jawabnya adalah : " biasa aja, capek. Pengen banget rasanya sekolahin dia di sekolah alam, seandainya di Jombang, Jatim ada. Tapi karena belum ada, pengeeeeen banget rasanya menciptakan atmosfer yang menyenangkan baginya dalam belajar. Sejauh ini dia adalah anak yang cerdas dan kritis (gemar bertanya), aku khawatir kalo tidak diimbangi dengan pendidikan lain (pembiasaan di rumah) dia akan menjadi generasi Indonesia yang menganggap sekolah adalah sebuah siksaan, bukan hal yang menyenangkan atau rutinitas yang ditunggu2. Seandainya dia mau tinggal bersamaku, seandainya aku bisa all day long di rumah (cuma ngajar pagi-siang aja) :'( Sayangnya, dia belum mau tinggal bersamaku dan aku juga belum bisa meluangkan banyak waktu di rumah. Oh my little boy, I love u much, really love u, dear Zidan
Quo vadis pendidikan Indonesia?
Jujur, menjadi guru pada awalnya adalah the last choice bagiku karena sulitnya menemukan pekerjaan untuk lulusan S1 Ilmu Sejarah. Tetapi, setelah menjalaninya selama beberapa waktu (dengan proses yang panjang dan penuh dengan suka duka pengalaman) aku merasa berada di 'habitat' yang tepat. Sayangnya, ibarat berenang melawan arus, idealisme sebagai individu (yang ingin sekali mengubah sistem/pola pengajaran) berbenturan dengan sistem pendidikan Indonesia yang 'yaahh, you know-lah' (bahasa gaulnya, hehe).
Sedih rasanya melihat murid2ku (tentunya generasi bangsa ini) malas sekolah dengan alasan : bosan di kelas, tidak suka dengan guru A, males klo yang ngajar guru B, sukanya cuma pas guru C, tapi nilai pelajaran guru C juga tidak lebih baik dibanding mapel lainnya. Pengen banget aku menemukan formula atau cara untuk membuat mereka semangat ke sekolah, tidak memilih siapapun guru mereka, rasa ingin tahu yang besar akan ilmu pengetahuan dan segudang alasan lain yang bisa membuat merek betah di sekolah.
Sayangnya, pendidikan Indonesia yang "sudah terlanjur terstruktur sedemikian hingga" mematikan kreativitas dan daya nalar anak. Anak hanya diberi ruang kebebasan untuk belajar sambil bermain di tingkat TK, setelah masuk SD sekolah menjadi begitu menyenangkan hanya pada saat istirahat, mengapa? pertama, karena kreativitas anak (psikomotorik anak dibatasi) dan hanya ditarget oleh aspek-aspek kognitif saja. Tidak hanya sampai di situ saja, dalam menjawab soal mereka hanya diperbolehkan menjawab secara text book alias copy paste, jarang sekali soal yang memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan atau menguraikan sehingga nalar + kreativitas anak terlatih. Hasilnya, anak hanya bisa menjawab jika jawabannya ada di buku, ketika buku tidak menyediakan jawaban yang dicari, maka anak tidak bisa menjawab. Mereka tidak terlatih/dibiasakan untuk menalar/memberikan jawaban sesuai dengan pendapat mereka . Kedua, mereka terbiasa "disuapi" oleh guru sejak SD, anak hanya sebagai obyek, yang harus diam+memperhatikan=mengerti. Alhasil, ketika siswa duduk di bangku SMP-SMA dan mendapati guru yang tidak menerangkan, siswa sudah mengklaim bahwa si guru tsb tidak enak. Padahal sesuai usia mereka harusnya sudah mulai bisa mengembangkan pola pikirnya sendiri, tidak text book lagi.
Meski sebagai guru aku juga masih sering menerangkan, ingin sekali rasanya ketika metode pembelajaran yang aku gunakan adalah diskusi mereka bisa aktif (baik berpendapat maupun bertanya), ketika membuat analisis pendapat mereka yang tertuang bukan menyalin apa yang ada di buku maupun LKS.
to be continue . . . .:-)
Sedih rasanya melihat murid2ku (tentunya generasi bangsa ini) malas sekolah dengan alasan : bosan di kelas, tidak suka dengan guru A, males klo yang ngajar guru B, sukanya cuma pas guru C, tapi nilai pelajaran guru C juga tidak lebih baik dibanding mapel lainnya. Pengen banget aku menemukan formula atau cara untuk membuat mereka semangat ke sekolah, tidak memilih siapapun guru mereka, rasa ingin tahu yang besar akan ilmu pengetahuan dan segudang alasan lain yang bisa membuat merek betah di sekolah.
Sayangnya, pendidikan Indonesia yang "sudah terlanjur terstruktur sedemikian hingga" mematikan kreativitas dan daya nalar anak. Anak hanya diberi ruang kebebasan untuk belajar sambil bermain di tingkat TK, setelah masuk SD sekolah menjadi begitu menyenangkan hanya pada saat istirahat, mengapa? pertama, karena kreativitas anak (psikomotorik anak dibatasi) dan hanya ditarget oleh aspek-aspek kognitif saja. Tidak hanya sampai di situ saja, dalam menjawab soal mereka hanya diperbolehkan menjawab secara text book alias copy paste, jarang sekali soal yang memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan atau menguraikan sehingga nalar + kreativitas anak terlatih. Hasilnya, anak hanya bisa menjawab jika jawabannya ada di buku, ketika buku tidak menyediakan jawaban yang dicari, maka anak tidak bisa menjawab. Mereka tidak terlatih/dibiasakan untuk menalar/memberikan jawaban sesuai dengan pendapat mereka . Kedua, mereka terbiasa "disuapi" oleh guru sejak SD, anak hanya sebagai obyek, yang harus diam+memperhatikan=mengerti. Alhasil, ketika siswa duduk di bangku SMP-SMA dan mendapati guru yang tidak menerangkan, siswa sudah mengklaim bahwa si guru tsb tidak enak. Padahal sesuai usia mereka harusnya sudah mulai bisa mengembangkan pola pikirnya sendiri, tidak text book lagi.
Meski sebagai guru aku juga masih sering menerangkan, ingin sekali rasanya ketika metode pembelajaran yang aku gunakan adalah diskusi mereka bisa aktif (baik berpendapat maupun bertanya), ketika membuat analisis pendapat mereka yang tertuang bukan menyalin apa yang ada di buku maupun LKS.
to be continue . . . .:-)
Jumat, 09 Maret 2012
C u r c o l e l o k
Bulan februari dan maret ini benar-benar menjadi bulan yang sangat sibuk baik di sekolah maupun di kantor. Deadline perangkat pembelajaran semester genap yang molor terus, kantor yang dibanjiri try out tiap minggu, OMG:'( Klo dulu jaman kuliah aku bisa handle banyak kerjaan (tugas-tugas yang menumpuk) krn pintar membagi waktu, kenapa sekarang rasanya kelabakan banget ya??? aku sering merasa time run so fastly saking seabreknya tugas yang harus aku selesaikan.
Kayanya aku harus kembali mengatur ritme kerjaku seperti jaman kuliah dulu sehingga semua dapat terselesaikan tepat waktu. Harus membuat daily schedule dan skala prioritas pekerjaan.
Untungnya, aku nggak mau rugi soal kesehatan, artinya sesibuk apapun, waktu tidurku nggak boleh kurang dari 6 jam(meski seringnya 7-8 jam) karena tidur adalah saatnya tubuh istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. Makan juga harus teratur meski tidak harus nasi, yang penting tidak boleh sampe kelaparan.Satu lagi, yaitu minum air putih, wajib hukumnya banyak minum air putih untuk menjaga ginjal dan kesegaran kulit, meski efeknya jadi sering ke kamar mandi.
Kalo aku ingat-ingat ritme kerjaku saat ini, sebenarnya sudah menjadi cita2 sejak dahulu kala saat remaja:), yaitu: pengen waktuku bener2 manfaat, mengajar+kerja kantoran, pulang kerja masih sempat melakukan hobby(membaca/nonton film), bangun agak siang krn setelah subuh molor lagi, punya suami yang pengertian dan tidak menuntutku untuk bisa masak atau ngerjain hal2 rumahan lainnya, tiap tahun liburan ke tempat2 impian. So far, sat hal impian yang belum terwujud : punya anak di usia muda, karena sampai hampir 29 tahun usiaku Allah belum memberiku anak kandung (meski zidan sudah memanggilku bunda-senang rasanya ketika dia memanggilku bunda)
Finally, aku mensyukuri semua yang telah Allah berikan kepadaku, semua adalah terbaik dariNya. Alhamdulillah ya Allah, Kau Maha Tahu Yang Terbaik untuk hambaMu.
Kayanya aku harus kembali mengatur ritme kerjaku seperti jaman kuliah dulu sehingga semua dapat terselesaikan tepat waktu. Harus membuat daily schedule dan skala prioritas pekerjaan.
Untungnya, aku nggak mau rugi soal kesehatan, artinya sesibuk apapun, waktu tidurku nggak boleh kurang dari 6 jam(meski seringnya 7-8 jam) karena tidur adalah saatnya tubuh istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. Makan juga harus teratur meski tidak harus nasi, yang penting tidak boleh sampe kelaparan.Satu lagi, yaitu minum air putih, wajib hukumnya banyak minum air putih untuk menjaga ginjal dan kesegaran kulit, meski efeknya jadi sering ke kamar mandi.
Kalo aku ingat-ingat ritme kerjaku saat ini, sebenarnya sudah menjadi cita2 sejak dahulu kala saat remaja:), yaitu: pengen waktuku bener2 manfaat, mengajar+kerja kantoran, pulang kerja masih sempat melakukan hobby(membaca/nonton film), bangun agak siang krn setelah subuh molor lagi, punya suami yang pengertian dan tidak menuntutku untuk bisa masak atau ngerjain hal2 rumahan lainnya, tiap tahun liburan ke tempat2 impian. So far, sat hal impian yang belum terwujud : punya anak di usia muda, karena sampai hampir 29 tahun usiaku Allah belum memberiku anak kandung (meski zidan sudah memanggilku bunda-senang rasanya ketika dia memanggilku bunda)
Finally, aku mensyukuri semua yang telah Allah berikan kepadaku, semua adalah terbaik dariNya. Alhamdulillah ya Allah, Kau Maha Tahu Yang Terbaik untuk hambaMu.
Selasa, 17 Januari 2012
Rabu, 21 Desember 2011
I have no idea :D
Lagi g ada ide mo nulis apaan, cuma merasa pengen buka n nulis sesuatu aja deh d blog :) Menjelang liburan tp blm ada planning holiday, malah harus stand by di rumah krn suami baru memulai bisnis baru, SEF (Smart English for Future) start on January 2012, semoga dilancarkan Allah, diberi kemudahan dan barokah, amiiiin:)
Join us to improve your English for future adalah tagline SEF, my idea lho . . . .:D
Kamis, 15 Desember 2011
Akhirnya dimonitoring juga ^_^
Minggu, 11 Desember 2011 akhirnya sekolahku kedatangan juga ama tim monitoring dari Kemenag setelah beberapa minggu tertunda2. Kami datang ke sekolah sesuai dengan intruksi jam 7 pagi (aku dan beberapa teman ada yang datang telat sih, hehe) eh para bapak tim monitoring baru hadir jam 11.30, alhamdulillah ya...sesuatu, xixi. Ada 2 orang bapak yang datang dan kami menduga-duga si bapak A enak/g ya? dibanding dengan si bapak B...singkat cerita akhirnya kami secara bergantian diperiksa kelengkapan/perangkat mengajar yang kami miliki. And well, aku cuma dapat skor 76,6 untuk jerih payah lembur 2 bulan :'( padahal pengennya dapat minimal 85-lah, hehe. Tapi apa daya, kuasa skor tidak ada pada kami:) Ini masih tingkat MTs, nanti kalo monotoring MA, aku pengen dapat nilai minila 85 tetapi target 90 ke atas, hehe (bermimpi itu harus setinggi langit supaya kalo jatuh masih di atas genteng, kalo mimpi cuma setinggi genting jatuhnya ke tanah aja, hahaha). Yaaah, minimal udah tahulah, ooo monitoring itu gtu ya... g bertanya2 lagi dengan hati dag dig dug der, hehe. Masih tegang ujian skripsi jauuuuhh sih^-^
Kamis, 08 Desember 2011
'Middle Class' di Indonesia tercinta
Baru saja selesai baca rubrik Opini di Jawa Pos edisi Jum'at, 9 Desember 2011 yang berjudul 'Occupy Wall Street dan Kelas Menengah Kita'. Dalam tulisan tsb ada hal 'paling' menarik yang saya cermati yaitu tentang pentingnya peran kelas menengah sebagai tulang punggung ekonomi dan motor penggerak demokrasi di suatu negara. Sayangnya, di Indonesia meningkatnya jumlah kelas menengah dari tahun ke tahun hanya dapat dirasakan kuantitasnya saja, tidak kualitasnya. Dapat dikatakan bahwa kelas menengah yang dimiliki bangsa kita saat ini adalah kelas menengah yang lemah, pasif, apatis, pragmatis tetapi sangat konsumtif (kurang 'payah' apa lagi coba? hehe). Salah satu contoh sederhananya adalah, masih rendahnya jumlah kelas menengah Indonesia yang mengerti (baca : sekedar memikirkan) pentingnya investasi untuk kelangsungan perekonomian mereka dan bangsa ini. 2 thumbs buat mas Afiffudin :)
Saya ingin beropini tentang investasi (bukan tentang OWS-nya :) Mengharapkan kelas menengah Indonesia untuk investasi di pasar modal/pasar uang mungkin masih dapat dikatakan 'jauh panggang dari api' artinya masih perlu waktu cukup lama untuk dapat merealisasikannya. Kalau investasi dalam bentuk sederhana 'pasti' bisa untuk mulai dibudayakan pada masyarakat (terutama kelas menengah). Misalnya : investasi emas (logam mulia lainnya), tanah, dsb. Kata 'konsumtif' yang disematkan oleh penulis pada kelas menengah kita sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? kelas menegah juga masih berpotensi untuk tergelincir ke kelas bawah jika tidak bijak dalam mengelola keuangannya dan pasti terkena dampak jika terjadi krisis ekonomi. Contoh : menjelang lebaran, di mana harga barang dinaikkan, justru masyarakat berlomba-lomba untuk memenuhi pasar tradisional sampai Mall untuk membeli ini-itu dengan alasan 'buat lebaran', setelah uang habis-lebaran selesai-satu demi satu barang berharga yang dimiliki dijual/digadaikan karena tidak ada lagi dana cadangan/simpanan. Herannya, ini berulang setiap tahunnya :)
Tidak mengherankan, jika investor masih akan terus dan terus menambah jumlah Mall yang ada di Indonesia karena mereka jeli dalam membaca pasar, yaitu "masyarakat konsumtif", artinya masyarakat menjadi pasar potensial para pengusaha/investor. Sayangnya, masyarakat tidak sepenuhnya sadar bahwa wajah imperialisme telah berubah, tidak lagi gold-gospel-glory tetapi penyedia sumber bahan mentah (Indonesia adalah negara kaya akan SDA hayati dan non hayati); penyedia tenaga kerja murah; dan daerah pemasaran hasil produksi.
Kalau memang gerakan OWS yang sedang menggema di luar sana 'rupanya' tidak mengusik kelas menengah Indonesia, setidaknya kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit menghilangkan (baca : minimal mengurangi) kelemahan, kepasifan, keapatisan dan budaya konsumtif yang ada di masyarakat dan memulainya dari diri sendiri.
Ayo gemar menabung dan mulainya berinvestasi selagi kita muda dan dapat bekerja !!! :D
Saya ingin beropini tentang investasi (bukan tentang OWS-nya :) Mengharapkan kelas menengah Indonesia untuk investasi di pasar modal/pasar uang mungkin masih dapat dikatakan 'jauh panggang dari api' artinya masih perlu waktu cukup lama untuk dapat merealisasikannya. Kalau investasi dalam bentuk sederhana 'pasti' bisa untuk mulai dibudayakan pada masyarakat (terutama kelas menengah). Misalnya : investasi emas (logam mulia lainnya), tanah, dsb. Kata 'konsumtif' yang disematkan oleh penulis pada kelas menengah kita sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? kelas menegah juga masih berpotensi untuk tergelincir ke kelas bawah jika tidak bijak dalam mengelola keuangannya dan pasti terkena dampak jika terjadi krisis ekonomi. Contoh : menjelang lebaran, di mana harga barang dinaikkan, justru masyarakat berlomba-lomba untuk memenuhi pasar tradisional sampai Mall untuk membeli ini-itu dengan alasan 'buat lebaran', setelah uang habis-lebaran selesai-satu demi satu barang berharga yang dimiliki dijual/digadaikan karena tidak ada lagi dana cadangan/simpanan. Herannya, ini berulang setiap tahunnya :)
Tidak mengherankan, jika investor masih akan terus dan terus menambah jumlah Mall yang ada di Indonesia karena mereka jeli dalam membaca pasar, yaitu "masyarakat konsumtif", artinya masyarakat menjadi pasar potensial para pengusaha/investor. Sayangnya, masyarakat tidak sepenuhnya sadar bahwa wajah imperialisme telah berubah, tidak lagi gold-gospel-glory tetapi penyedia sumber bahan mentah (Indonesia adalah negara kaya akan SDA hayati dan non hayati); penyedia tenaga kerja murah; dan daerah pemasaran hasil produksi.
Kalau memang gerakan OWS yang sedang menggema di luar sana 'rupanya' tidak mengusik kelas menengah Indonesia, setidaknya kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit menghilangkan (baca : minimal mengurangi) kelemahan, kepasifan, keapatisan dan budaya konsumtif yang ada di masyarakat dan memulainya dari diri sendiri.
Ayo gemar menabung dan mulainya berinvestasi selagi kita muda dan dapat bekerja !!! :D
Langganan:
Postingan (Atom)