Jujur, menjadi guru pada awalnya adalah the last choice bagiku karena sulitnya menemukan pekerjaan untuk lulusan S1 Ilmu Sejarah. Tetapi, setelah menjalaninya selama beberapa waktu (dengan proses yang panjang dan penuh dengan suka duka pengalaman) aku merasa berada di 'habitat' yang tepat. Sayangnya, ibarat berenang melawan arus, idealisme sebagai individu (yang ingin sekali mengubah sistem/pola pengajaran) berbenturan dengan sistem pendidikan Indonesia yang 'yaahh, you know-lah' (bahasa gaulnya, hehe).
Sedih rasanya melihat murid2ku (tentunya generasi bangsa ini) malas sekolah dengan alasan : bosan di kelas, tidak suka dengan guru A, males klo yang ngajar guru B, sukanya cuma pas guru C, tapi nilai pelajaran guru C juga tidak lebih baik dibanding mapel lainnya. Pengen banget aku menemukan formula atau cara untuk membuat mereka semangat ke sekolah, tidak memilih siapapun guru mereka, rasa ingin tahu yang besar akan ilmu pengetahuan dan segudang alasan lain yang bisa membuat merek betah di sekolah.
Sayangnya, pendidikan Indonesia yang "sudah terlanjur terstruktur sedemikian hingga" mematikan kreativitas dan daya nalar anak. Anak hanya diberi ruang kebebasan untuk belajar sambil bermain di tingkat TK, setelah masuk SD sekolah menjadi begitu menyenangkan hanya pada saat istirahat, mengapa? pertama, karena kreativitas anak (psikomotorik anak dibatasi) dan hanya ditarget oleh aspek-aspek kognitif saja. Tidak hanya sampai di situ saja, dalam menjawab soal mereka hanya diperbolehkan menjawab secara text book alias copy paste, jarang sekali soal yang memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan atau menguraikan sehingga nalar + kreativitas anak terlatih. Hasilnya, anak hanya bisa menjawab jika jawabannya ada di buku, ketika buku tidak menyediakan jawaban yang dicari, maka anak tidak bisa menjawab. Mereka tidak terlatih/dibiasakan untuk menalar/memberikan jawaban sesuai dengan pendapat mereka . Kedua, mereka terbiasa "disuapi" oleh guru sejak SD, anak hanya sebagai obyek, yang harus diam+memperhatikan=mengerti. Alhasil, ketika siswa duduk di bangku SMP-SMA dan mendapati guru yang tidak menerangkan, siswa sudah mengklaim bahwa si guru tsb tidak enak. Padahal sesuai usia mereka harusnya sudah mulai bisa mengembangkan pola pikirnya sendiri, tidak text book lagi.
Meski sebagai guru aku juga masih sering menerangkan, ingin sekali rasanya ketika metode pembelajaran yang aku gunakan adalah diskusi mereka bisa aktif (baik berpendapat maupun bertanya), ketika membuat analisis pendapat mereka yang tertuang bukan menyalin apa yang ada di buku maupun LKS.
to be continue . . . .:-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar