Kamis, 08 Desember 2011

'Middle Class' di Indonesia tercinta

Baru saja selesai baca rubrik Opini di Jawa Pos edisi Jum'at, 9 Desember 2011 yang berjudul 'Occupy Wall Street dan Kelas Menengah Kita'. Dalam tulisan tsb ada hal 'paling' menarik yang saya cermati yaitu tentang pentingnya peran kelas menengah sebagai tulang punggung ekonomi dan motor penggerak demokrasi di suatu negara. Sayangnya, di Indonesia meningkatnya jumlah kelas menengah dari tahun ke tahun hanya dapat dirasakan kuantitasnya saja, tidak kualitasnya. Dapat dikatakan bahwa kelas menengah yang dimiliki bangsa kita saat ini adalah kelas menengah yang lemah, pasif, apatis, pragmatis tetapi sangat konsumtif (kurang 'payah' apa lagi coba? hehe). Salah satu contoh sederhananya adalah, masih rendahnya jumlah kelas menengah Indonesia yang mengerti (baca : sekedar memikirkan) pentingnya investasi untuk kelangsungan perekonomian mereka dan bangsa ini. 2 thumbs buat mas Afiffudin :)


Saya ingin beropini tentang investasi (bukan tentang OWS-nya :) Mengharapkan kelas menengah Indonesia untuk investasi di pasar modal/pasar uang mungkin masih dapat dikatakan 'jauh panggang dari api' artinya masih perlu waktu cukup lama untuk dapat merealisasikannya. Kalau investasi dalam bentuk sederhana 'pasti' bisa untuk mulai dibudayakan pada masyarakat (terutama kelas menengah). Misalnya : investasi emas (logam mulia lainnya), tanah, dsb. Kata 'konsumtif' yang disematkan oleh penulis pada kelas menengah kita sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? kelas menegah juga masih berpotensi untuk tergelincir ke kelas bawah jika tidak bijak dalam mengelola keuangannya dan pasti terkena dampak jika terjadi krisis ekonomi. Contoh : menjelang lebaran, di mana harga barang dinaikkan, justru masyarakat berlomba-lomba untuk memenuhi pasar tradisional sampai Mall untuk membeli ini-itu dengan alasan 'buat lebaran', setelah uang habis-lebaran selesai-satu demi satu barang berharga yang dimiliki dijual/digadaikan karena tidak ada lagi dana cadangan/simpanan. Herannya, ini berulang setiap tahunnya :)
Tidak mengherankan, jika investor masih akan terus dan terus menambah jumlah Mall yang ada di Indonesia karena mereka jeli dalam membaca pasar, yaitu "masyarakat konsumtif", artinya masyarakat menjadi pasar potensial para pengusaha/investor. Sayangnya, masyarakat tidak sepenuhnya sadar bahwa wajah imperialisme telah berubah, tidak lagi gold-gospel-glory tetapi penyedia sumber bahan mentah (Indonesia adalah negara kaya akan SDA hayati dan non hayati); penyedia tenaga kerja murah; dan daerah pemasaran hasil produksi.


Kalau memang gerakan OWS yang sedang menggema di luar sana 'rupanya' tidak mengusik kelas menengah Indonesia, setidaknya kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit menghilangkan (baca : minimal mengurangi) kelemahan, kepasifan, keapatisan dan budaya konsumtif yang ada di masyarakat dan memulainya dari diri sendiri.
Ayo gemar menabung dan mulainya berinvestasi selagi kita muda dan dapat bekerja !!! :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar