Baru saja selesai baca rubrik Opini di Jawa Pos edisi Jum'at, 9 Desember 2011 yang berjudul 'Occupy Wall Street dan Kelas Menengah Kita'. Dalam tulisan tsb ada hal 'paling' menarik yang saya cermati yaitu tentang pentingnya peran kelas menengah sebagai tulang punggung ekonomi dan motor penggerak demokrasi di suatu negara. Sayangnya, di Indonesia meningkatnya jumlah kelas menengah dari tahun ke tahun hanya dapat dirasakan kuantitasnya saja, tidak kualitasnya. Dapat dikatakan bahwa kelas menengah yang dimiliki bangsa kita saat ini adalah kelas menengah yang lemah, pasif, apatis, pragmatis tetapi sangat konsumtif (kurang 'payah' apa lagi coba? hehe). Salah satu contoh sederhananya adalah, masih rendahnya jumlah kelas menengah Indonesia yang mengerti (baca : sekedar memikirkan) pentingnya investasi untuk kelangsungan perekonomian mereka dan bangsa ini. 2 thumbs buat mas Afiffudin :)
Saya ingin beropini tentang investasi (bukan tentang OWS-nya :) Mengharapkan kelas menengah Indonesia untuk investasi di pasar modal/pasar uang mungkin masih dapat dikatakan 'jauh panggang dari api' artinya masih perlu waktu cukup lama untuk dapat merealisasikannya. Kalau investasi dalam bentuk sederhana 'pasti' bisa untuk mulai dibudayakan pada masyarakat (terutama kelas menengah). Misalnya : investasi emas (logam mulia lainnya), tanah, dsb. Kata 'konsumtif' yang disematkan oleh penulis pada kelas menengah kita sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? kelas menegah juga masih berpotensi untuk tergelincir ke kelas bawah jika tidak bijak dalam mengelola keuangannya dan pasti terkena dampak jika terjadi krisis ekonomi. Contoh : menjelang lebaran, di mana harga barang dinaikkan, justru masyarakat berlomba-lomba untuk memenuhi pasar tradisional sampai Mall untuk membeli ini-itu dengan alasan 'buat lebaran', setelah uang habis-lebaran selesai-satu demi satu barang berharga yang dimiliki dijual/digadaikan karena tidak ada lagi dana cadangan/simpanan. Herannya, ini berulang setiap tahunnya :)
Tidak mengherankan, jika investor masih akan terus dan terus menambah jumlah Mall yang ada di Indonesia karena mereka jeli dalam membaca pasar, yaitu "masyarakat konsumtif", artinya masyarakat menjadi pasar potensial para pengusaha/investor. Sayangnya, masyarakat tidak sepenuhnya sadar bahwa wajah imperialisme telah berubah, tidak lagi gold-gospel-glory tetapi penyedia sumber bahan mentah (Indonesia adalah negara kaya akan SDA hayati dan non hayati); penyedia tenaga kerja murah; dan daerah pemasaran hasil produksi.
Kalau memang gerakan OWS yang sedang menggema di luar sana 'rupanya' tidak mengusik kelas menengah Indonesia, setidaknya kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit menghilangkan (baca : minimal mengurangi) kelemahan, kepasifan, keapatisan dan budaya konsumtif yang ada di masyarakat dan memulainya dari diri sendiri.
Ayo gemar menabung dan mulainya berinvestasi selagi kita muda dan dapat bekerja !!! :D
Kamis, 08 Desember 2011
Selasa, 06 Desember 2011
Behel oh behel >_<'
Keinginan lama yg udah lamaaaa banget terpendam skrg kembali muncul dan menggebu2, huft. (baca : pasang behel untuk gigiku yang super berantakan). Ada sepupu yang nawari 2 juta di dokternya dan suami udah ngijinin, cm setelah mikir2 lagi n tanya sana-sini ama temen yg udah pasang behel duluan, hargax berkisar 5-6 juta (biasa), langsuung ijin dbatalkan ama suami dengan alasan kemahalan untuk kawat yg dipasang di gigi (huaaaa, pengen jerit2, ya iyalah mahal kan bukan kawat yg dibuat di toko bangunan dear hubby). Setelah 2 bulan ini disibukkan dengan monitoring sekolah yang ditunda-tunda terus, rasanya pasang behel bisa mengobati rasa penat dan jenuhku, secara kan keinginan lama yang kembali muncul,hadehhhh, gimana nih?
klo dipikir memang mahal sih, seharga laptop gtu loooh, cuma namanya aja buat gigi lebih rapi n bagus ya wajarlah segitu, tp hubbyqcintaq sayangq tidak memberikan restunya, huaaaaa.....nangis guling-guling :'(
klo dipikir memang mahal sih, seharga laptop gtu loooh, cuma namanya aja buat gigi lebih rapi n bagus ya wajarlah segitu, tp hubbyqcintaq sayangq tidak memberikan restunya, huaaaaa.....nangis guling-guling :'(
Jumat, 04 November 2011
Guru MENGAJAR belum tentu siswa BELAJAR
Hal mendasar yang tidak biasa dipahami oleh semua guru adalah 'saat guru mengajar belum tentu siswa belajar' (seperti kata pak Munib Chatib). Jujur, setelah membaca buku SEKOLAHNYA MANUSIA, kesadaran itu mulai muncul setiap aku mengajar. Mau dipaksakan bagaimanapun, ketika suasana kelas tidak kondusif (anak-anak mengantuk, terlihat lelah, tampak jenuh/bosan) maka proses belajar harus 'break' dulu alias tidak dapat dilanjutkan dulu, lalu apa yang harus dilakukan guru? membiarkan anak-anak tidur? atau mendiamkan mereka? tentu tidak ;) Yang harus dilakukan guru adalah memberikan ice breaking untuk me-refresh otak mereka agar segar kembali dan siap untuk proses belajar. Ice breaking tentu banyak macamnya, apa saja.... silahkan klik di:
http://asepsaepudin73.blogspot.com/2009/01/macam-macam-games-yang-dapat-dijadikan.html
atau
http://www.slideshare.net/guest069a65a/ice-breaking-dlm-pembelajaran
http://asepsaepudin73.blogspot.com/2009/01/macam-macam-games-yang-dapat-dijadikan.html
atau
http://www.slideshare.net/guest069a65a/ice-breaking-dlm-pembelajaran
Kamis, 27 Oktober 2011
Belajar Mengajar dengan Hati
Menghadapi murid yang kurang pintar, nakal atau tidak mempunyai motivasi belajar adalah sebuah tantangan bagi setiap guru (pendidik). Menghadapi siswa kurang pintar, guru hanya butuh kesabaran(ketelatenan) untuk mengulang dan mengulang lagi materi sampai si anak mengerti. Menghadapi siswa yang nakal tidak cukup hanya dengan kesabaran tetapi juga dengan tindakan (bekerjasama dengan guru BK dan waka kesiswaan) mencari tahu apa penyebab kenakalan anak dan tindak lanjut apa yang perlu dilakukan pihak sekolah untuk mengatasinya. Sedangkan menghadapi siswa dengan motivasi belajar 'nol' adalah sebuah tantangan yang bisa saya katakan 'cukup menguras energi' karena diperlukan kesabaran/ketelatenan, kepedulian dan kasih sayang atau bisa saya istilahkan 'mengajar dengan hati'. Mungkin terdengar berat dan mungkin naif untuk sebagian orang, tetapi percayalah begitu kita bisa masuk celah 'hati' anak-anak (siswa) dengan kasih sayang dan empati kita, maka anak-anak akan bisa menemukan kembali motivasi belajar nya yang menguap atau bahkan sempat menghilang. Meski belum merasa sepenuhnya berhasil menjadi GURUNYA MANUSIA, tetapi saya mempunyai beberapa tips 'mengajar dengan hati'
1. Berpikir Positif sebelum mengajar, jangan bayangkan penolakan siswa pada pelajaran kita, jangan bayangkan siswa terbandel di kelas, jangan berpikir negatif tentang siswa yang akan qta temui di kelas. Sebaliknya, pikirkan bahwa anda akan bertemu dengan anak-anak yang manis, yang sering merajuk karena minta perhatian, yang utuh figur orang tua untuk berkeluh kesah dan hal-hal lainnya yang positif/menenangkan
2. Tularkan Energi Positif kita ketika masuk ke dalam kelas dengan salam, senyum, wajah ceria dan seolah tidak akan mengajar mereka, tetapi hanya berbagi sesuatu yang anda miliki.
3. Berilah Empati anda dengan menanyakan kabar mereka hari ini, apakah mereka siap menghadapi segala tantangan yang akan anda berikan hari ini? Perhatian mereka akan sedikit demi sedikit bertambah pada anda karena mereka merasa dipedulikan oleh gurunya.
4. Buatlah Apersepsi yang dapat menarik perhatian siswa sehingga tanpa anda paksapun siswa akan mengikuti alur yang anda ciptakan. Kalau dalam buku Pak Munib Chatib, ada beberapa macam apersepsi, misal : cerita lucu/humor, warming, brain gym, video pendek yang bisa memancing keingintahuan mereka, membahas suatu masalah yang sedang 'In' atau 'booming' saat ini (misal segala sesuatu yang berhubungan dengan Korea, entah boyband, drama korea, kekalahan MU saat Derby dengan Manchester City, atau tewasnya mArco Simoncelli di GP Sepang-Malaysia, dll) lalu mengaitkannya dengan materi kita. Bagaimana cara mengaitkannya? itu bergantung pada kemampuan anda untuk berinovasi dan berimprovisasi dalam menyampaikan materi yang bisa dihubungkan dengan peristiwa2 tsb.
Untuk membuat Apersepsi yang menarik, kita memang dituntut untuk kreatif dan selalu up to date terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita, up to date pada selera anak-anak, mencoba masuk untuk mengerti dan memahami dunia anak, bukan memaksa mereka mengerti dan memahami dunia kita. (Kata Gibran, anak-anak adalah busur panah yang sudah kita lepaskan dan tidak bisa kembali lagi pada kita, artinya zaman mereka dengan kita sudah jauh berbeda)
Belajar tidak bisa satu arah (dari guru saja), tetapi harus dua arah, sehingga pemebelajaran harus mellibatkan siswa secara aktif, gunakan cara yang Inovatif dan Kreatif tetapi tetap efektif dan tentu saja menyenangkan (PAIKEM).
Menurut saya, setiap manusia adalah pembelajar, tidak ada kata akhir untuk berhenti belajar karena zaman terus berlari meninggalkan kita. Untuk menjadi sempurna tentunya sebuah kemustahilan, tetapi dengan keinginan kuat agar selalu menjadi lebih baik, insyaallah hasil terbaik dapat kita peroleh. Mari mengajar dengan hati, insyaallah kita bisa menjadi guru yang dinanti oleh para siswa kita, amiiiin
Senin, 24 Oktober 2011
Komunikata
Setelah minggu lalu merasa 'berhasil'TTS, minggu ini aku ingin mencoba membuat metode seperti kuis komunikata, yang formatnya agak aku ubah sedikit. Siswa dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Siswa yang paling depan, nantinya bertugas menulis jawaban di papan tulis,2 orang teman di belakangnya bertugas menyampaikan pesan/kata yang telah disampaikan oleh teman ke-4 (berdiri paling belakang), yang telah mendapat kata kunci dari guru, kata kunci yang diberikan bisa 4-5 kata, kelompok mana yang lebih dulu menyelesaikan dan benar semua akan mendapat hadiah dari guru. Belum buat kata kuncinya sih, tapi optimis kalo metode ini bakal menarik buat anak-anak, terutama yang biasanya tidak bisa duduk :D
Jumat, 21 Oktober 2011
TTS untuk minggu ini
Minggu ini aku sedang gemar menggunakan TTS sebagai media pembelajaran di kelas, alhamdulillah sangat efektif membuat anak-anak mau membaca buku dan antusias mengerjakannya, bahkan kelas 8 yang bagiku juga guru-guru lain sangat sangat 'sulit untuk dikendalikan' berhasil 'kukendalikan' dengan media ini. Minggu depan adalah tantangan selanjutnya untuk mencuri perhatian anak-anak, mungkin aku akan membuat semacam kuis 'komunikata' atau 'whispering contest' di mana anak-anak tidak terkungkung di bangkunya, tapi bisa berdiri dan bergerak leluasa. Selain itu aku juga berencana untuk memberikan ice breaking berupa permainan (entah apa, belum mengobok2 file fasilitator hubby:) yang bisa membuat mereka tetap enjoy dengan pelajaran sejarah saat mereka terlihat jenuh/bosan. Harus diakui, pelajaran sejarah bagi banyak anak 'bikin ngantuk' dan akhirnya 'mendengkur' :D Semoga dengan cara-cara yang coba aku lakukan ini, pelajaranku menjadi pelajaran yang dinanti oleh anak-anak.
Awalnya aku membuat kotak-kotak di word lalu excel, ternyata sangat menyita waktu untuk membuat TTS untuk 1 jenjang kelas, setelah cerita pada seorang teman, ternyata ada softwarenya, yaitu eclipscrossword.com. Waaaaah, ternyata nggak perlu lama untuk membuat TTS :) Tinggal buat soal+jawabannya, lalu masukkan deh ke eclipscrossword, taraaaa . . . . . jadi deh :D
Awalnya aku membuat kotak-kotak di word lalu excel, ternyata sangat menyita waktu untuk membuat TTS untuk 1 jenjang kelas, setelah cerita pada seorang teman, ternyata ada softwarenya, yaitu eclipscrossword.com. Waaaaah, ternyata nggak perlu lama untuk membuat TTS :) Tinggal buat soal+jawabannya, lalu masukkan deh ke eclipscrossword, taraaaa . . . . . jadi deh :D
Jumat, 14 Oktober 2011
Belajar menjadi GURUNYA MANUSIA
Belum tuntas membaca Gurunya Manusia by Munib Chatib, sudah cukup rasanya untuk membuka mata/mengintropeksi diri tentang cara yang selama ini aku lakukan dalam mengajar. Meski bukan tipekal teacher oriented, tp 50% dari proses pembelajaran di kelas memang aku gunakan untuk ceramah (yang oleh pak Munif SANGAT DILARANG, porsinya 30 : 70 saja . Bukan tanpa alasan sebenarnya aku menggunakan metode ceramah, anak-anak sudah terbiasa dengan metode ceramah, sehingga bagi mereka kalo guru belum menerangkan berarti wajar kalo mereka nggak bisa, nah repot kan?. Butuh waktu memang untuk mengubah pandangan anak-anak, mereka yang dari kecil terbiasa di sekolah yang 'menyuapi' materi, tentu merasa agak kaget dengan metode non ceramah, misal: ketika diskusi pasif, ketiga tugas kelompok tidak bisa bekerjasama dengan baik, de el el. Semoga dengan membaca sampai khatam buku pak Munif bisa memperbaiki cara mengajarku di sekolah dan anak-anakku kelak :) Aku juga ingin menjadi guru yang selalu dinantikan oleh murid-murid meski bagi banyak anak pelajaran Sejarah adalah pelajaran hafalan yang 'membosankan'
Langganan:
Postingan (Atom)