Rabu, 17 Mei 2017
AIRA ...GOTCHA
Rabu, 17 Mei 2017
Baru sempat tertulis setelah sekian lama 'kurang menyempatkan diri' untuk membuka blog dan menulisnya.
Saya sadar sepenuhnya kalau setiap anak unik dan berbeda, tidak boleh membandingkan anak satu dengan yang lainnya. Tetapi ternyata itu adalah teori yang sungguh sulit penerapannya, karena meski sekuat hati menahan agar tak terucap, batin ini tetap berkata, haha.
Aira, selisih 23 bulan dengan kakaknya memang berbeda dengan kakaknya dalam banyak hal dan yang disadari oleh banyak orang adalah kemampuan lingustik mereka. Alesha sekitar usia 18 bulan sudah dapat bercerita (membuat kelimat-kalimat pendek yang rapi), sedangkan aira masih 2 kata saja sampai usianya 2 tahun bulan lalu, misal : buda maem (baca : bunda makan), buda pipis (baca : bunda pipis), dsb. Bulan ini 25 bulan usianya, dia sudah mulai bisa merangkai kata lebih dari 2 kata, yihaaaaa, rasanya senang luar biasa bundamu ini nak, karena bunda yakin setiap anak akan punya 'timing' sendiri-sendiri. Kalimat pertama aira adalah : adek ikuk bakung Allah (baca : adek ikut mbah kung Allah/sholat), lalu di susul : buda kakak ana ayek-ayek ( baca : bunda, kakak di sana sama arek-arek). Dengan semakin bertambahnya kemampuan bicara dan kosa katanya, alhamdulillah memudahkannya untuk diajak berkomunikasi. Sudah mulai kritis juga dalam menyikapi lingkungan.Setiap pagi kalau saya bersiap di depan cermin dia akan bertanya : buda mau olah? (baca : bunda mau sekolah), adek gak ikuk (baca : adek nggak ikut). Akan berbeda kalau saya bersiap di depan cermin sore atau malam hari, dia kana bertanya : buda mana? (baca : bunda mau ke mana?), kadang dia jawab sendiri : buda bowo (baca : bunda bowo?/kondangan maksudnya), hihihi, pokoknya lucu deh. Ada sih yang kadang saya maupun ayahnya belum bisa menangkap kata yang dia ucapkan tp rangkaian kata yang sudah dia susun menjadi kalimat itu progress yang luar biasa bagi kami dan dia akan berusaha menjelaskan maksudnya dengan tindakan jika kami tidak memahami maksudnya. Misal : buda @#$%^&*@#~^, kami akan balik bertanya, apa sih dek? dia akan menarik tangan kami, ayo buda nini (ayo bunda sini) menunjukkan benda/barang yang dimaksud, dll.
Yes, finally....aira gotcha, kamu mendapatkan 'timing' mu, Nak. Bunda dan Ayah love u so much
Jumat, 12 Mei 2017
Pra MM, sebuah Titik Balik
Bismillah, tanggal 24 Mei 2017 nanti tiba giliran saya sharing tentang Mind Maping saya. Untuk mengawali pengerjaan MM tersebut, alangkah baiknya jika saya membuat rencana terlebih dahulu, lalu melaksanakannya baru kemudian menuliskannya menjadi MM saya.
Sebelum sampai pada rencana, saya ingin sedikit bercerita, peristiwa yang menjadikan saya seolah mengalami 'titik balik' dalam hidup saya. Sungguh rencana ini sudah tersusun dan terlaksana beberapa hari sebelum peristiwa tersebut terjadi. Minggu dini hari sekitar jam 1.30 saya mengalami sesak nafas, seperti biasa saya membangunkan suami untuk minta dipijat di bagian punggung dekat tulang belikat, yang biasanya dapat meredakan sesak nafas saya, 30 menit berlalu sesak nafas saya tak kunjung reda bahkan semakin parah, saya minumi obat sesak nafas dan anti alergi tidak memberikan efek berarti. Sambil menangis saya minta suami antar ke UGD, suami segera keluar rumah menuju rumah mertua yang alhamdulillah bersebelahan untuk meminta beliau menjaga anak-anak karena kami akan ke UGD. Jam 2 kami menuju UGD dalam waktu 15 menit, di jalan beberapa kali saya merasa sudah tidak kuat lagi rasanya, air mata terus mengalir mengingat anak-anak di rumah, istighfar terus terucap demi menebus dosa yang entah Allah maafkan atau tidak. Sampai di UGD saya terduduk di teras menunggu suami parkir motor. Petugas UGD membantu saya naik brankar dan memasang selang oksigen pada saya, dokter menanyai kapan saya terakhir dinebu, saya jawab kamis pagi, ventolin 1. Dokter stb memberi intruksi pada perawat, ventolin 2 segera. Perawat meminta saya rebahan tapi saya belum bisa karena sesak belum reda, beberap waktu kemudian barulah terasa reda/berkurang sesak nafas saya sehingga saya merebahkan diri karena lelah juga baru terasa. Sampai sekitar jam 4 barulah obatnya habis dan dokter mengizinkan pulang. Menembus dinginnya malam sepulang dari RS dengan nafas yang plong lega tetap membuat saya menangis, bagaimana tidak, ajal serasa dekat sekali tadi, beberapa jam lalu, yang membuat saya tak henti berucap syukur, Allah masih memberi saya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri.
Sejak peristiwa itu, saya benar-benar melaksanakan rencana-rencana saya, yaitu :
1. Sholat tepat waktu dan berjamaah dengan suami minimal di 2 waktu sholat (maghrib dan isya')
2. Membaca al-qur'an setiap selesai sholat, nantinya ingin ODOJ karena selama ini masih OWOJ
3. Membacakan surat-surat pendek pada anak-anak menjelang mereka tidur
4. Membuat agenda aktivitas kakak dan aktivitas adek, minimal 1-2 jam ada pembelajaran berarti
5. Membacakan buku untuk anak-anak minimal 10-15 menit
6. Membaca buku/artikel online minimal 30 menit dalam sehari
7. Membuat fliyer-fliyer iklan untuk menunjang profesi saya sebagai book advisor
8. Membuat 'Papan Pengingat' yang akan saya tempeli visi misi keluarga, harapan-harapan, tujuan yang ingin dicapai, perubahan-perubahan apa saja yang saya rencanakan (misal : tidak ngomel dalam sehari/tidak mengomel ketika ada anak-anak), mencoba memasak menu baru untuk anak-anak, tulisan pengingat agar saya sabar dalam menghadapi berbagai ulah anak-anak, dll)
Sebelum sampai pada rencana, saya ingin sedikit bercerita, peristiwa yang menjadikan saya seolah mengalami 'titik balik' dalam hidup saya. Sungguh rencana ini sudah tersusun dan terlaksana beberapa hari sebelum peristiwa tersebut terjadi. Minggu dini hari sekitar jam 1.30 saya mengalami sesak nafas, seperti biasa saya membangunkan suami untuk minta dipijat di bagian punggung dekat tulang belikat, yang biasanya dapat meredakan sesak nafas saya, 30 menit berlalu sesak nafas saya tak kunjung reda bahkan semakin parah, saya minumi obat sesak nafas dan anti alergi tidak memberikan efek berarti. Sambil menangis saya minta suami antar ke UGD, suami segera keluar rumah menuju rumah mertua yang alhamdulillah bersebelahan untuk meminta beliau menjaga anak-anak karena kami akan ke UGD. Jam 2 kami menuju UGD dalam waktu 15 menit, di jalan beberapa kali saya merasa sudah tidak kuat lagi rasanya, air mata terus mengalir mengingat anak-anak di rumah, istighfar terus terucap demi menebus dosa yang entah Allah maafkan atau tidak. Sampai di UGD saya terduduk di teras menunggu suami parkir motor. Petugas UGD membantu saya naik brankar dan memasang selang oksigen pada saya, dokter menanyai kapan saya terakhir dinebu, saya jawab kamis pagi, ventolin 1. Dokter stb memberi intruksi pada perawat, ventolin 2 segera. Perawat meminta saya rebahan tapi saya belum bisa karena sesak belum reda, beberap waktu kemudian barulah terasa reda/berkurang sesak nafas saya sehingga saya merebahkan diri karena lelah juga baru terasa. Sampai sekitar jam 4 barulah obatnya habis dan dokter mengizinkan pulang. Menembus dinginnya malam sepulang dari RS dengan nafas yang plong lega tetap membuat saya menangis, bagaimana tidak, ajal serasa dekat sekali tadi, beberapa jam lalu, yang membuat saya tak henti berucap syukur, Allah masih memberi saya kesempatan kedua untuk memperbaiki diri.
Sejak peristiwa itu, saya benar-benar melaksanakan rencana-rencana saya, yaitu :
1. Sholat tepat waktu dan berjamaah dengan suami minimal di 2 waktu sholat (maghrib dan isya')
2. Membaca al-qur'an setiap selesai sholat, nantinya ingin ODOJ karena selama ini masih OWOJ
3. Membacakan surat-surat pendek pada anak-anak menjelang mereka tidur
4. Membuat agenda aktivitas kakak dan aktivitas adek, minimal 1-2 jam ada pembelajaran berarti
5. Membacakan buku untuk anak-anak minimal 10-15 menit
6. Membaca buku/artikel online minimal 30 menit dalam sehari
7. Membuat fliyer-fliyer iklan untuk menunjang profesi saya sebagai book advisor
8. Membuat 'Papan Pengingat' yang akan saya tempeli visi misi keluarga, harapan-harapan, tujuan yang ingin dicapai, perubahan-perubahan apa saja yang saya rencanakan (misal : tidak ngomel dalam sehari/tidak mengomel ketika ada anak-anak), mencoba memasak menu baru untuk anak-anak, tulisan pengingat agar saya sabar dalam menghadapi berbagai ulah anak-anak, dll)
Rabu, 03 Mei 2017
BIARKAN 'DIA' BERTEMU DENGAN IBUNYA . . . .
Serbuan semut rupanya belum berakhir juga 'menyerang' rumah saya. Masalah tidak hanya tentang bagaimana mengusirnya dari rumah, tetapi kapan saya bisa mengusir mereka. Timing yang tidak tepat akan memperpanjang urusan dan perdebatan dengan kakak alesha :D
Pertama saya mengusir semut dengan membakar beberapa kertas di pojok-pojok pusat mereka berkumpul, kena teguran kakak alesha karena kasian semutnya mati kepanasan, Ok bunda tidak melakukannya lagi. Kedua, saya mengoleskan solar ke rumah-rumah mereka dan lagi kakak alesha berkata, kasian bunda semutnya tidak bisa keluar dari rumahnya untuk mencari makan, padahal kan mereka butuh makan, well bunda salah lagi kali ini. Ketiga, sudah secara sembunyi-sembunyi saat kakak tidak di rumah saya menyapu semut-semut tsb ke arah saluran pembuangan air, taraaa kakak datang berteriak, jangaaaan bunda kasian semutnya kalo tenggelam, nanti ibu semut nyariin anak-anaknya, bunda sedih kan kalau anak-anaknya hilang? ibunya semut juga pasti sedih bunda klo kehilangan anak-anaknya, baiklah kakak, terus bunda harus gimana caranya supaya semut-semut ini nggak rusuh di sini, bunda kan khawatir juga klo semut gigit kakak alesha dan adik aira?
Ahaaa, aku punya ide bunda, caranya bunda sapu semut-semut itu ditaruh pengki (cikrak) lalu bunda taruh pelan-pelan di tanah atau paving di halaman, kan semutnya senang juga di tanah, ketemu dengan teman-temannya yang lain. Ok goodgirl, you're so smart and has a beautiful heart.
Belajar itu bisa kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja, kali ini tentang semut bunda belajar banyak dari kakak alesha, I love u much, sweetheart.
Pertama saya mengusir semut dengan membakar beberapa kertas di pojok-pojok pusat mereka berkumpul, kena teguran kakak alesha karena kasian semutnya mati kepanasan, Ok bunda tidak melakukannya lagi. Kedua, saya mengoleskan solar ke rumah-rumah mereka dan lagi kakak alesha berkata, kasian bunda semutnya tidak bisa keluar dari rumahnya untuk mencari makan, padahal kan mereka butuh makan, well bunda salah lagi kali ini. Ketiga, sudah secara sembunyi-sembunyi saat kakak tidak di rumah saya menyapu semut-semut tsb ke arah saluran pembuangan air, taraaa kakak datang berteriak, jangaaaan bunda kasian semutnya kalo tenggelam, nanti ibu semut nyariin anak-anaknya, bunda sedih kan kalau anak-anaknya hilang? ibunya semut juga pasti sedih bunda klo kehilangan anak-anaknya, baiklah kakak, terus bunda harus gimana caranya supaya semut-semut ini nggak rusuh di sini, bunda kan khawatir juga klo semut gigit kakak alesha dan adik aira?
Ahaaa, aku punya ide bunda, caranya bunda sapu semut-semut itu ditaruh pengki (cikrak) lalu bunda taruh pelan-pelan di tanah atau paving di halaman, kan semutnya senang juga di tanah, ketemu dengan teman-temannya yang lain. Ok goodgirl, you're so smart and has a beautiful heart.
Belajar itu bisa kapan saja, di mana saja dan pada siapa saja, kali ini tentang semut bunda belajar banyak dari kakak alesha, I love u much, sweetheart.
Langganan:
Komentar (Atom)