Oke, dari banyak kontroversi, saya ingin berpendapat terlebih dahulu tentang yang terakhir, yaitu Working Mom vs Full Time Mother. Saya seorang working mom alias ibu bekerja,yang bekerja jam 7 pagi sampai jam 1 siang. FYI,dalam hal apapun saya bukan orang yg fanatik/saklek, saya belajar toleransi dari kecil sampai sekarang dan saya paham toleransi di sini maknanya luas,artinya saya tidak mau menghakimi/men-judge seorang FTM itu lbh baik daripada WM,atau sebaliknya. Why? krn semua itu pilihan personal, setiap FTM (sudah seharusnya)tahu konsekuensi pilihannya, demikian seorang WM(sudah pasti) tahu konsekuensi pilihannya. Setidaknya saya melihat diri saya sendiri,sebagai WM tidak berarti saya menjadi ibu yang tidak baik, I'll be the best Mom for my baby. Sebelum bekerja saya memandikan sendiri anak saya,memakaikannya baju dengan bernyanyi lalu menyusuinya,menu makannya saya pilihkan(tentukan) dan neneknya yang menyuapi, pulang dari bekerja saya sholat dan makan siang, setelah itu waktu saya total untuk si kecil, mengajaknya bermain, bernyanyi sampai menidurkannya lagi.Setelah dia tidur, apa pekerjaan saya sbg.ibu sudah selesai? belum, saya masih harus pumping (memompa asi) untuk keperluan asip si kecil esok hari baru kemudian belajar/bersiap materi/bahan untuk mengajar besok pagi. Capek? of course, saya manusia biasa sama seperti yang lainnya, tapi saya bahagia dengan pilihan saya. Saya bekerja tidak sekedar mencari uang, tp saya niatkan sejak awal untuk memanfaatkan ilmu karena dalam agama saya ilmu yang manfaat adalah pahala yang senantiasa mengalir meski kita sudah meninggal. Uang dari hasil saya bekerja adalah bonus atas dedikasi waktu, tenaga dan pikiran saya, it work.
Ya sih, saya mesih merepotkan orang tua dan bude2 saya dalam menjaga si kecil selama saya mengajar, tapi itu sudah pertimbangan yang matang dan kami sepakati bersama(saya, suami dan ortu saya tentunya). Mengapa tidak memakai ART? pertama, saya tidak mudah percaya orang terlebih orang baru di luar keluarga, kedua saya orang perfeksionis :)meski saya bekerja, anak saya alhamdulillah lulus S1 asi eksklusif dan lanjut S2 sampai saat ini, mpasi nya juga homemade alias buatan rumah tanpa gula garam sebelum dia berusia 1 tahun, ketiga, keuangan kami belum memungkinkan untuk membayar gaji ART yang mau nurut dengan seabrek peraturan2 saya dalam pola perawatan si kecil,protes dong mereka klo saya rewel luar biasa tp gaji sama seperti ART kebanyakan, bisa2 sehari langsung kabur mereka, hehe.
Saya menghormati siapapun yang memilih menjadi FTM tanpa merepotkan ortu/keluarga lainnya, two thumbs untuk mereka. Mereka jelas punya pertimbangan matang seperti halnya saya yang memutuskan menjadi WM. Intinya, menjadi WM pun saya selalu berusaha menjadi ibu yang lebih baik dari waktu ke waktu, saya tetap bisa melihat tumbuh kembang anak saya, memiliki waktu yang cukup untuk menemaninya belajar/bermain dan lainnya.
Ayo, marilah menjadi lebih bijak dengan tidak saling menghakimi,tidak ada FTM lebih baik dari WM atau sebaliknya Setiap ibu pasti ingin menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya, yang penting berbahagialah dan bertanggungjawablah dengan pilihan itu karena konsekuensinya pada akhirnya ya di anak. Tetap jadilah smart mommy entah itu WM or FTM, yang open minded dalam banyak hal terutama perawatan dan pola asuh anak untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.
Be Happy, Moms
Tidak ada komentar:
Posting Komentar