Menurut berita di koran JP tanggal 12 Maret 2012, tahun depan (2013) SNMPTN tidak ada ujian tulis serentak seperti sebelum2nya, nantinya yang ada hanya SNMPTN jalur undangan dan tes ujian lokal sesuai kebijakan masing-masing PTN. Hal ini tentu mengurangi peluang persaingan lulusan SMA yang sempat berhenti (tidak langsung melanjutkan kuliah setelah lulus SMA). Selain itu biaya SNMPTN jalur undangan dikhawatirkan banyak pihak akan membutuhkan biaya lebih dibanding dengan jalur reguler.
Misal kekhawatiran banyak pihak itu terbukti, maka hal ini tentu sangat menyedihkan karena semakin dibatasinya kesempatan anak Indonesia untuk bisa duduk di bangku kuliah(terutama yang tidak mempunyai cukup biaya).
Indonesia oh Indonesia, mau jadi apa dan bagimana bangsa ini 10-20 tahun mendatang? SMK diperbanyak, kesempatan kuliah dibatasi. Investor asing akan bersorak girangkarena berhasil menjadikan bangsa Indonesia buruh di negeri sendiri (bagian dari Imperialisme modern).
Pendidikan bagi sebagian orang mungkin tidak terlalu penting (setidaknya itu kata para motivator/pengusaha sukses yg tidak lulus kuliah atau bahkan tidak pernah merasakan bangku kuliah), tetapi bagiku pribadi: pendidikan (di perguruan tinggi) sangat penting, terutama untuk mengubah pola pikir.
to be continue . . . .
Rabu, 21 Maret 2012
Sekolah yang Menyenangkan
Saat aku bertanya pada 'my little boy', "gimana sekolahnya hari ini?" jawabnya adalah : " biasa aja, capek. Pengen banget rasanya sekolahin dia di sekolah alam, seandainya di Jombang, Jatim ada. Tapi karena belum ada, pengeeeeen banget rasanya menciptakan atmosfer yang menyenangkan baginya dalam belajar. Sejauh ini dia adalah anak yang cerdas dan kritis (gemar bertanya), aku khawatir kalo tidak diimbangi dengan pendidikan lain (pembiasaan di rumah) dia akan menjadi generasi Indonesia yang menganggap sekolah adalah sebuah siksaan, bukan hal yang menyenangkan atau rutinitas yang ditunggu2. Seandainya dia mau tinggal bersamaku, seandainya aku bisa all day long di rumah (cuma ngajar pagi-siang aja) :'( Sayangnya, dia belum mau tinggal bersamaku dan aku juga belum bisa meluangkan banyak waktu di rumah. Oh my little boy, I love u much, really love u, dear Zidan
Quo vadis pendidikan Indonesia?
Jujur, menjadi guru pada awalnya adalah the last choice bagiku karena sulitnya menemukan pekerjaan untuk lulusan S1 Ilmu Sejarah. Tetapi, setelah menjalaninya selama beberapa waktu (dengan proses yang panjang dan penuh dengan suka duka pengalaman) aku merasa berada di 'habitat' yang tepat. Sayangnya, ibarat berenang melawan arus, idealisme sebagai individu (yang ingin sekali mengubah sistem/pola pengajaran) berbenturan dengan sistem pendidikan Indonesia yang 'yaahh, you know-lah' (bahasa gaulnya, hehe).
Sedih rasanya melihat murid2ku (tentunya generasi bangsa ini) malas sekolah dengan alasan : bosan di kelas, tidak suka dengan guru A, males klo yang ngajar guru B, sukanya cuma pas guru C, tapi nilai pelajaran guru C juga tidak lebih baik dibanding mapel lainnya. Pengen banget aku menemukan formula atau cara untuk membuat mereka semangat ke sekolah, tidak memilih siapapun guru mereka, rasa ingin tahu yang besar akan ilmu pengetahuan dan segudang alasan lain yang bisa membuat merek betah di sekolah.
Sayangnya, pendidikan Indonesia yang "sudah terlanjur terstruktur sedemikian hingga" mematikan kreativitas dan daya nalar anak. Anak hanya diberi ruang kebebasan untuk belajar sambil bermain di tingkat TK, setelah masuk SD sekolah menjadi begitu menyenangkan hanya pada saat istirahat, mengapa? pertama, karena kreativitas anak (psikomotorik anak dibatasi) dan hanya ditarget oleh aspek-aspek kognitif saja. Tidak hanya sampai di situ saja, dalam menjawab soal mereka hanya diperbolehkan menjawab secara text book alias copy paste, jarang sekali soal yang memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan atau menguraikan sehingga nalar + kreativitas anak terlatih. Hasilnya, anak hanya bisa menjawab jika jawabannya ada di buku, ketika buku tidak menyediakan jawaban yang dicari, maka anak tidak bisa menjawab. Mereka tidak terlatih/dibiasakan untuk menalar/memberikan jawaban sesuai dengan pendapat mereka . Kedua, mereka terbiasa "disuapi" oleh guru sejak SD, anak hanya sebagai obyek, yang harus diam+memperhatikan=mengerti. Alhasil, ketika siswa duduk di bangku SMP-SMA dan mendapati guru yang tidak menerangkan, siswa sudah mengklaim bahwa si guru tsb tidak enak. Padahal sesuai usia mereka harusnya sudah mulai bisa mengembangkan pola pikirnya sendiri, tidak text book lagi.
Meski sebagai guru aku juga masih sering menerangkan, ingin sekali rasanya ketika metode pembelajaran yang aku gunakan adalah diskusi mereka bisa aktif (baik berpendapat maupun bertanya), ketika membuat analisis pendapat mereka yang tertuang bukan menyalin apa yang ada di buku maupun LKS.
to be continue . . . .:-)
Sedih rasanya melihat murid2ku (tentunya generasi bangsa ini) malas sekolah dengan alasan : bosan di kelas, tidak suka dengan guru A, males klo yang ngajar guru B, sukanya cuma pas guru C, tapi nilai pelajaran guru C juga tidak lebih baik dibanding mapel lainnya. Pengen banget aku menemukan formula atau cara untuk membuat mereka semangat ke sekolah, tidak memilih siapapun guru mereka, rasa ingin tahu yang besar akan ilmu pengetahuan dan segudang alasan lain yang bisa membuat merek betah di sekolah.
Sayangnya, pendidikan Indonesia yang "sudah terlanjur terstruktur sedemikian hingga" mematikan kreativitas dan daya nalar anak. Anak hanya diberi ruang kebebasan untuk belajar sambil bermain di tingkat TK, setelah masuk SD sekolah menjadi begitu menyenangkan hanya pada saat istirahat, mengapa? pertama, karena kreativitas anak (psikomotorik anak dibatasi) dan hanya ditarget oleh aspek-aspek kognitif saja. Tidak hanya sampai di situ saja, dalam menjawab soal mereka hanya diperbolehkan menjawab secara text book alias copy paste, jarang sekali soal yang memberi kesempatan siswa untuk menjelaskan atau menguraikan sehingga nalar + kreativitas anak terlatih. Hasilnya, anak hanya bisa menjawab jika jawabannya ada di buku, ketika buku tidak menyediakan jawaban yang dicari, maka anak tidak bisa menjawab. Mereka tidak terlatih/dibiasakan untuk menalar/memberikan jawaban sesuai dengan pendapat mereka . Kedua, mereka terbiasa "disuapi" oleh guru sejak SD, anak hanya sebagai obyek, yang harus diam+memperhatikan=mengerti. Alhasil, ketika siswa duduk di bangku SMP-SMA dan mendapati guru yang tidak menerangkan, siswa sudah mengklaim bahwa si guru tsb tidak enak. Padahal sesuai usia mereka harusnya sudah mulai bisa mengembangkan pola pikirnya sendiri, tidak text book lagi.
Meski sebagai guru aku juga masih sering menerangkan, ingin sekali rasanya ketika metode pembelajaran yang aku gunakan adalah diskusi mereka bisa aktif (baik berpendapat maupun bertanya), ketika membuat analisis pendapat mereka yang tertuang bukan menyalin apa yang ada di buku maupun LKS.
to be continue . . . .:-)
Jumat, 09 Maret 2012
C u r c o l e l o k
Bulan februari dan maret ini benar-benar menjadi bulan yang sangat sibuk baik di sekolah maupun di kantor. Deadline perangkat pembelajaran semester genap yang molor terus, kantor yang dibanjiri try out tiap minggu, OMG:'( Klo dulu jaman kuliah aku bisa handle banyak kerjaan (tugas-tugas yang menumpuk) krn pintar membagi waktu, kenapa sekarang rasanya kelabakan banget ya??? aku sering merasa time run so fastly saking seabreknya tugas yang harus aku selesaikan.
Kayanya aku harus kembali mengatur ritme kerjaku seperti jaman kuliah dulu sehingga semua dapat terselesaikan tepat waktu. Harus membuat daily schedule dan skala prioritas pekerjaan.
Untungnya, aku nggak mau rugi soal kesehatan, artinya sesibuk apapun, waktu tidurku nggak boleh kurang dari 6 jam(meski seringnya 7-8 jam) karena tidur adalah saatnya tubuh istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. Makan juga harus teratur meski tidak harus nasi, yang penting tidak boleh sampe kelaparan.Satu lagi, yaitu minum air putih, wajib hukumnya banyak minum air putih untuk menjaga ginjal dan kesegaran kulit, meski efeknya jadi sering ke kamar mandi.
Kalo aku ingat-ingat ritme kerjaku saat ini, sebenarnya sudah menjadi cita2 sejak dahulu kala saat remaja:), yaitu: pengen waktuku bener2 manfaat, mengajar+kerja kantoran, pulang kerja masih sempat melakukan hobby(membaca/nonton film), bangun agak siang krn setelah subuh molor lagi, punya suami yang pengertian dan tidak menuntutku untuk bisa masak atau ngerjain hal2 rumahan lainnya, tiap tahun liburan ke tempat2 impian. So far, sat hal impian yang belum terwujud : punya anak di usia muda, karena sampai hampir 29 tahun usiaku Allah belum memberiku anak kandung (meski zidan sudah memanggilku bunda-senang rasanya ketika dia memanggilku bunda)
Finally, aku mensyukuri semua yang telah Allah berikan kepadaku, semua adalah terbaik dariNya. Alhamdulillah ya Allah, Kau Maha Tahu Yang Terbaik untuk hambaMu.
Kayanya aku harus kembali mengatur ritme kerjaku seperti jaman kuliah dulu sehingga semua dapat terselesaikan tepat waktu. Harus membuat daily schedule dan skala prioritas pekerjaan.
Untungnya, aku nggak mau rugi soal kesehatan, artinya sesibuk apapun, waktu tidurku nggak boleh kurang dari 6 jam(meski seringnya 7-8 jam) karena tidur adalah saatnya tubuh istirahat dan regenerasi sel-sel tubuh. Makan juga harus teratur meski tidak harus nasi, yang penting tidak boleh sampe kelaparan.Satu lagi, yaitu minum air putih, wajib hukumnya banyak minum air putih untuk menjaga ginjal dan kesegaran kulit, meski efeknya jadi sering ke kamar mandi.
Kalo aku ingat-ingat ritme kerjaku saat ini, sebenarnya sudah menjadi cita2 sejak dahulu kala saat remaja:), yaitu: pengen waktuku bener2 manfaat, mengajar+kerja kantoran, pulang kerja masih sempat melakukan hobby(membaca/nonton film), bangun agak siang krn setelah subuh molor lagi, punya suami yang pengertian dan tidak menuntutku untuk bisa masak atau ngerjain hal2 rumahan lainnya, tiap tahun liburan ke tempat2 impian. So far, sat hal impian yang belum terwujud : punya anak di usia muda, karena sampai hampir 29 tahun usiaku Allah belum memberiku anak kandung (meski zidan sudah memanggilku bunda-senang rasanya ketika dia memanggilku bunda)
Finally, aku mensyukuri semua yang telah Allah berikan kepadaku, semua adalah terbaik dariNya. Alhamdulillah ya Allah, Kau Maha Tahu Yang Terbaik untuk hambaMu.
Langganan:
Komentar (Atom)