Lagi g ada ide mo nulis apaan, cuma merasa pengen buka n nulis sesuatu aja deh d blog :) Menjelang liburan tp blm ada planning holiday, malah harus stand by di rumah krn suami baru memulai bisnis baru, SEF (Smart English for Future) start on January 2012, semoga dilancarkan Allah, diberi kemudahan dan barokah, amiiiin:)
Join us to improve your English for future adalah tagline SEF, my idea lho . . . .:D
Rabu, 21 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011
Akhirnya dimonitoring juga ^_^
Minggu, 11 Desember 2011 akhirnya sekolahku kedatangan juga ama tim monitoring dari Kemenag setelah beberapa minggu tertunda2. Kami datang ke sekolah sesuai dengan intruksi jam 7 pagi (aku dan beberapa teman ada yang datang telat sih, hehe) eh para bapak tim monitoring baru hadir jam 11.30, alhamdulillah ya...sesuatu, xixi. Ada 2 orang bapak yang datang dan kami menduga-duga si bapak A enak/g ya? dibanding dengan si bapak B...singkat cerita akhirnya kami secara bergantian diperiksa kelengkapan/perangkat mengajar yang kami miliki. And well, aku cuma dapat skor 76,6 untuk jerih payah lembur 2 bulan :'( padahal pengennya dapat minimal 85-lah, hehe. Tapi apa daya, kuasa skor tidak ada pada kami:) Ini masih tingkat MTs, nanti kalo monotoring MA, aku pengen dapat nilai minila 85 tetapi target 90 ke atas, hehe (bermimpi itu harus setinggi langit supaya kalo jatuh masih di atas genteng, kalo mimpi cuma setinggi genting jatuhnya ke tanah aja, hahaha). Yaaah, minimal udah tahulah, ooo monitoring itu gtu ya... g bertanya2 lagi dengan hati dag dig dug der, hehe. Masih tegang ujian skripsi jauuuuhh sih^-^
Kamis, 08 Desember 2011
'Middle Class' di Indonesia tercinta
Baru saja selesai baca rubrik Opini di Jawa Pos edisi Jum'at, 9 Desember 2011 yang berjudul 'Occupy Wall Street dan Kelas Menengah Kita'. Dalam tulisan tsb ada hal 'paling' menarik yang saya cermati yaitu tentang pentingnya peran kelas menengah sebagai tulang punggung ekonomi dan motor penggerak demokrasi di suatu negara. Sayangnya, di Indonesia meningkatnya jumlah kelas menengah dari tahun ke tahun hanya dapat dirasakan kuantitasnya saja, tidak kualitasnya. Dapat dikatakan bahwa kelas menengah yang dimiliki bangsa kita saat ini adalah kelas menengah yang lemah, pasif, apatis, pragmatis tetapi sangat konsumtif (kurang 'payah' apa lagi coba? hehe). Salah satu contoh sederhananya adalah, masih rendahnya jumlah kelas menengah Indonesia yang mengerti (baca : sekedar memikirkan) pentingnya investasi untuk kelangsungan perekonomian mereka dan bangsa ini. 2 thumbs buat mas Afiffudin :)
Saya ingin beropini tentang investasi (bukan tentang OWS-nya :) Mengharapkan kelas menengah Indonesia untuk investasi di pasar modal/pasar uang mungkin masih dapat dikatakan 'jauh panggang dari api' artinya masih perlu waktu cukup lama untuk dapat merealisasikannya. Kalau investasi dalam bentuk sederhana 'pasti' bisa untuk mulai dibudayakan pada masyarakat (terutama kelas menengah). Misalnya : investasi emas (logam mulia lainnya), tanah, dsb. Kata 'konsumtif' yang disematkan oleh penulis pada kelas menengah kita sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? kelas menegah juga masih berpotensi untuk tergelincir ke kelas bawah jika tidak bijak dalam mengelola keuangannya dan pasti terkena dampak jika terjadi krisis ekonomi. Contoh : menjelang lebaran, di mana harga barang dinaikkan, justru masyarakat berlomba-lomba untuk memenuhi pasar tradisional sampai Mall untuk membeli ini-itu dengan alasan 'buat lebaran', setelah uang habis-lebaran selesai-satu demi satu barang berharga yang dimiliki dijual/digadaikan karena tidak ada lagi dana cadangan/simpanan. Herannya, ini berulang setiap tahunnya :)
Tidak mengherankan, jika investor masih akan terus dan terus menambah jumlah Mall yang ada di Indonesia karena mereka jeli dalam membaca pasar, yaitu "masyarakat konsumtif", artinya masyarakat menjadi pasar potensial para pengusaha/investor. Sayangnya, masyarakat tidak sepenuhnya sadar bahwa wajah imperialisme telah berubah, tidak lagi gold-gospel-glory tetapi penyedia sumber bahan mentah (Indonesia adalah negara kaya akan SDA hayati dan non hayati); penyedia tenaga kerja murah; dan daerah pemasaran hasil produksi.
Kalau memang gerakan OWS yang sedang menggema di luar sana 'rupanya' tidak mengusik kelas menengah Indonesia, setidaknya kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit menghilangkan (baca : minimal mengurangi) kelemahan, kepasifan, keapatisan dan budaya konsumtif yang ada di masyarakat dan memulainya dari diri sendiri.
Ayo gemar menabung dan mulainya berinvestasi selagi kita muda dan dapat bekerja !!! :D
Saya ingin beropini tentang investasi (bukan tentang OWS-nya :) Mengharapkan kelas menengah Indonesia untuk investasi di pasar modal/pasar uang mungkin masih dapat dikatakan 'jauh panggang dari api' artinya masih perlu waktu cukup lama untuk dapat merealisasikannya. Kalau investasi dalam bentuk sederhana 'pasti' bisa untuk mulai dibudayakan pada masyarakat (terutama kelas menengah). Misalnya : investasi emas (logam mulia lainnya), tanah, dsb. Kata 'konsumtif' yang disematkan oleh penulis pada kelas menengah kita sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? kelas menegah juga masih berpotensi untuk tergelincir ke kelas bawah jika tidak bijak dalam mengelola keuangannya dan pasti terkena dampak jika terjadi krisis ekonomi. Contoh : menjelang lebaran, di mana harga barang dinaikkan, justru masyarakat berlomba-lomba untuk memenuhi pasar tradisional sampai Mall untuk membeli ini-itu dengan alasan 'buat lebaran', setelah uang habis-lebaran selesai-satu demi satu barang berharga yang dimiliki dijual/digadaikan karena tidak ada lagi dana cadangan/simpanan. Herannya, ini berulang setiap tahunnya :)
Tidak mengherankan, jika investor masih akan terus dan terus menambah jumlah Mall yang ada di Indonesia karena mereka jeli dalam membaca pasar, yaitu "masyarakat konsumtif", artinya masyarakat menjadi pasar potensial para pengusaha/investor. Sayangnya, masyarakat tidak sepenuhnya sadar bahwa wajah imperialisme telah berubah, tidak lagi gold-gospel-glory tetapi penyedia sumber bahan mentah (Indonesia adalah negara kaya akan SDA hayati dan non hayati); penyedia tenaga kerja murah; dan daerah pemasaran hasil produksi.
Kalau memang gerakan OWS yang sedang menggema di luar sana 'rupanya' tidak mengusik kelas menengah Indonesia, setidaknya kita bisa berusaha untuk sedikit demi sedikit menghilangkan (baca : minimal mengurangi) kelemahan, kepasifan, keapatisan dan budaya konsumtif yang ada di masyarakat dan memulainya dari diri sendiri.
Ayo gemar menabung dan mulainya berinvestasi selagi kita muda dan dapat bekerja !!! :D
Selasa, 06 Desember 2011
Behel oh behel >_<'
Keinginan lama yg udah lamaaaa banget terpendam skrg kembali muncul dan menggebu2, huft. (baca : pasang behel untuk gigiku yang super berantakan). Ada sepupu yang nawari 2 juta di dokternya dan suami udah ngijinin, cm setelah mikir2 lagi n tanya sana-sini ama temen yg udah pasang behel duluan, hargax berkisar 5-6 juta (biasa), langsuung ijin dbatalkan ama suami dengan alasan kemahalan untuk kawat yg dipasang di gigi (huaaaa, pengen jerit2, ya iyalah mahal kan bukan kawat yg dibuat di toko bangunan dear hubby). Setelah 2 bulan ini disibukkan dengan monitoring sekolah yang ditunda-tunda terus, rasanya pasang behel bisa mengobati rasa penat dan jenuhku, secara kan keinginan lama yang kembali muncul,hadehhhh, gimana nih?
klo dipikir memang mahal sih, seharga laptop gtu loooh, cuma namanya aja buat gigi lebih rapi n bagus ya wajarlah segitu, tp hubbyqcintaq sayangq tidak memberikan restunya, huaaaaa.....nangis guling-guling :'(
klo dipikir memang mahal sih, seharga laptop gtu loooh, cuma namanya aja buat gigi lebih rapi n bagus ya wajarlah segitu, tp hubbyqcintaq sayangq tidak memberikan restunya, huaaaaa.....nangis guling-guling :'(
Langganan:
Komentar (Atom)