Kamis, 16 Maret 2017
Akhirnya datang juga
Hari ini yang lama dinanti akhirnya datang juga, buku portofolio anak. Lihat pertama kali aja udah sukaaa, jadi nggak sabar buat buka dan mengisinya. :)
Senin, 06 Maret 2017
QT bersama kakak hari ini
Namanya Shadrina Alesha Bakhtiar yang artinya Hati yang Selalu dalam LindunganNya dan Berbahagia. Bulan Mei nanti dia memasuki usia 4 tahun. Karena sejak kecil memang sudah terbiasa dengan buku dan dongeng, maka quality time bersamanya tak jauh-jauh pula dari buku, entah untuk dibacakan, atau dia ceritakan versi dia dengan melihat gambarnya atau sekedar ditata menjadi rumah-rumahna, jembatan dan benda-benda dalam imajinasinya. Malam ini sejak selepas maghrib tadi, hanya satu buku yang dia mau dibacakan berulang-ulang/dia ceritakan versinya, judulnya adalah Bintang Kedelapan. Buku itu bercerita tentang persahabatan gadis kecil bernama Eva dengan Bintang Kedelapan, yang esensinya adalah tentang persahabatan dan kasih sayang. Kalau tidak salah hitung lebih dari 10x saya menceritakannya atau dia membacanya ulang (menceritakan kembali dengan bahasanya) dan meminta saya menyimaknya :)
Biasanya dia tidur di kisaran ja 7.30 atau jam 8, tp malam ini sampai hampir jam 9 dia baru tertidur dan alhasil saya juga sudah ngantuk, hehe. Demi membiasakan menuliskan apa yang saya pikirkan dan demi terisinya blog ini dengan tulisan-tulisan saya, maka tahan mata dulu untuk menulis sejenak.
Selamat tidur dan mimpi indah kakak alesha....
Next, akan saya ceritakan tentang adeknya ya....
Biasanya dia tidur di kisaran ja 7.30 atau jam 8, tp malam ini sampai hampir jam 9 dia baru tertidur dan alhasil saya juga sudah ngantuk, hehe. Demi membiasakan menuliskan apa yang saya pikirkan dan demi terisinya blog ini dengan tulisan-tulisan saya, maka tahan mata dulu untuk menulis sejenak.
Selamat tidur dan mimpi indah kakak alesha....
Next, akan saya ceritakan tentang adeknya ya....
Belajar
Bagi saya belajar adalah sebuah proses yang harus dilalui semua manusia sejak lahir hingga nanti saatnya berpulang padaNya. Belajar itu bisa kapan saja, di mana saja dan tentang apa saja. Untuk saat ini beberapa hal yang saya lakukan untuk belajar adalah membaca, berdiskusi dan berkomunitas dengan orang-orang yang bisa mendukung dan memahami keinginan belajar saya.
Sesuatu yang sangat ingin saya pelajari adalah bagaimana saya bisa menjadi pribadi yang sabar, menjadi istri dan ibu yang lebih baik serta menjadi pribadi yang lebih bermanfaat untuk orang-orang di sekitar saya. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, tidak ada kata malu untuk memulai sesuatu yang lebih baik.
Semangat belajar . . . .
Sesuatu yang sangat ingin saya pelajari adalah bagaimana saya bisa menjadi pribadi yang sabar, menjadi istri dan ibu yang lebih baik serta menjadi pribadi yang lebih bermanfaat untuk orang-orang di sekitar saya. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, tidak ada kata malu untuk memulai sesuatu yang lebih baik.
Semangat belajar . . . .
Kamis, 02 Maret 2017
Horeee, ketemu
Yeay....akhirnya bisa masuk juga ke blog ini lagi, Alhamdulillah :)
Semoga selanjutnya ada waktu luang untuk menulis kembali, tentang apa saja, masih seputar elok dan apa yang ada dalam pikiran yang ingin dibagikan/disampaikan pada orang lain, setidaknya Nice Home Work akan segera diarsip di blog ini untuk melihat progress dalam kelas Matrikulasi Institute Ibu Profesional. Tidak kata terlambat untuk belajar karena belajar adalah sepanjang hayat, tidak ada kata tidak bisa sebelum berusaha. Semangat berubah lebih baik, semangat bisa menjadi lebih baik, aamiin.
Well, sudah jam 11.57 pm, cahaya mata sisa 5 watt (lampu biasa, bukan LED), yang artinya harus memberikan hak istirahat padanya. See you, my blog :)
Rabu, 08 Juni 2016
Di mana keluarga?
Melewati perempatan jalan setiap pagi saat berangkat dan pulang dari sekolah menimbulkan rasa iba/prihatin/sedih/entahlah perasaan apa, karena selalu menjumpai sekelompok 'the black'. Entah sebutan apa yang tepat untuk anak2 abg usia belasan awal (perkiraan pribadi) yang hampir selalu 'berkeliaran' di sekitar perempatan jalan, saya menyebut mereka 'the black' lebih karena memang kaos/baju mereka memang serba hitam. Saat melihat mereka, yang terlintas di benak saya adalah apa yang mereka cari? apa mereka tidak punya tujuan hidup? apa mereka hanya malas sekolah sehingga ada di jalanan?lalu ke mana orang tua/keluarga mereka?.
Lain lagi, saat saya berdiskusi tentang hal ini dengan seorang teman, dia 'lagi-lagi' seperti pada umumnya orang, menyalahkan pemerintah yang tidak menindak mereka. Secara umum,masyarakat menyalahkan pemerintah untuk hal ini, tapi saya tidak demikian sepenuhnya karena saya tahu dinas sosial rutin mengadakan operasi 'mengamankan'mereka tetapi mereka kembali ke jalanan lagi setelah memberi mereka bimbingan. Saya selalu bertanya, ke mana orang tua mereka? di mana keluarganya? apa tidak mungkin mereka di jalan karena tidak punya keluarga? bukan hanya karena keluarganya telah meninggal,tetapi keluarga yang kehilangan fungsinya sebagai keluarga. Keluarga ada tapi tidak ada, orang tua ada tapi tidak ada. Dari survey kecil,the black ada di jalanan karena beberapa faktor : mereka memang tidak punya keluarga (dalam arti sesungguhnya), keluarga mereka tidak peduli pada mereka, terpengaruh teman sepermainan, dsb.
Keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang, tempat terbaik untuk mencurahkan kasih sayang, tempat terbaik untuk belajar nilai(sosialisasi primer), dsb→sayangnya, banyak keluarga yang tidak berfungsi baik sehingga menghasilkan anak-anak 'blast' atau the black ini. Muncul dalam benak saya, alangkah baiknya jika pemerintah mengadakan program pra nikah yang wajib diikuti oleh pasangan mempelai, supaya mereka tahu tujuan pernikahan,tujuan dibentuknya keluarga dan apa fungsi keluarga terhadap anak. Jadi, saat mereka menjadi orang tua, ada bekal yang mereka tahu untuk menjadi orang tua.
Menikah tidak hanya sebagai legalisasi suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga fase baru kehidupan dengan tanggung jawab berbeda terhadap diri sendiri dan juga keturunannya. Bahwa menjadi orang tua tidak hanya sekedar mendapat panggilan ayah atau ibu, tapi juga menjalankan peran sebagai ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Jika keluarga berfungsi baik, maka anak akan menjadi baik, sebaliknya anak akan menjadi kurang(tidak) baik jika fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Lain lagi, saat saya berdiskusi tentang hal ini dengan seorang teman, dia 'lagi-lagi' seperti pada umumnya orang, menyalahkan pemerintah yang tidak menindak mereka. Secara umum,masyarakat menyalahkan pemerintah untuk hal ini, tapi saya tidak demikian sepenuhnya karena saya tahu dinas sosial rutin mengadakan operasi 'mengamankan'mereka tetapi mereka kembali ke jalanan lagi setelah memberi mereka bimbingan. Saya selalu bertanya, ke mana orang tua mereka? di mana keluarganya? apa tidak mungkin mereka di jalan karena tidak punya keluarga? bukan hanya karena keluarganya telah meninggal,tetapi keluarga yang kehilangan fungsinya sebagai keluarga. Keluarga ada tapi tidak ada, orang tua ada tapi tidak ada. Dari survey kecil,the black ada di jalanan karena beberapa faktor : mereka memang tidak punya keluarga (dalam arti sesungguhnya), keluarga mereka tidak peduli pada mereka, terpengaruh teman sepermainan, dsb.
Keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang, tempat terbaik untuk mencurahkan kasih sayang, tempat terbaik untuk belajar nilai(sosialisasi primer), dsb→sayangnya, banyak keluarga yang tidak berfungsi baik sehingga menghasilkan anak-anak 'blast' atau the black ini. Muncul dalam benak saya, alangkah baiknya jika pemerintah mengadakan program pra nikah yang wajib diikuti oleh pasangan mempelai, supaya mereka tahu tujuan pernikahan,tujuan dibentuknya keluarga dan apa fungsi keluarga terhadap anak. Jadi, saat mereka menjadi orang tua, ada bekal yang mereka tahu untuk menjadi orang tua.
Menikah tidak hanya sebagai legalisasi suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga fase baru kehidupan dengan tanggung jawab berbeda terhadap diri sendiri dan juga keturunannya. Bahwa menjadi orang tua tidak hanya sekedar mendapat panggilan ayah atau ibu, tapi juga menjalankan peran sebagai ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Jika keluarga berfungsi baik, maka anak akan menjadi baik, sebaliknya anak akan menjadi kurang(tidak) baik jika fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Selasa, 07 Juni 2016
Haiiiii
Hmmm, akhirnya ketemu juga ama blog ini lagi, setelah lama berhibernasi, eaaa. Ok untuk awal, nothing to write, just say hi yo my blog :)
Sabtu, 22 Februari 2014
Lagu dangdut dan anak-anak ???
Pagi ini, saat menidurkan Alesha (9m), terdengar suara mic dicoba tes 1, 2 3 dari rumah tetangga, saya kira mau ada acara pengajian atau lainnya, ternyata hanya untuk karaoke anaknya. Suaranya kenceng bo', kaya mau hajatan, padahal rumah saya di desa lho....halaman luas dan jarak dengan rumah tetangga lumayan jauh :'(, ini adalah salah satu duka tinggal di desa, toleransinya kurang karena masyarakat cenderung homogen sehingga tidak terbiasa dengan perbedaan sehingga tidak terbiasa untuk menghormati perbedaan (dalam hal ini perbedaan selera musik tentunya). Mereka tidak mempertimbangkan hak orang lain yang mungkin terganggu dengan suara musik strereo yang mereka nyalakan.
Oke lupakan soal toleransi di atas, yang lebih saya cermati adalah ternyata lagu yang dinyanyikan oleh si anak (yang terdengar sampai kamar saya yang letaknya di belakang) adalah lagu dangdut yang sekarang sedang 'in' karena menjadi soundtrack sebuah acara di salah satu TV swasta di Indonesia. Diawali dengan oplosan, pokoke joged dan entah apa lagi judulnya. Terlepas dangdut bukan selera musik saya, saya sangat prihatin, miris bahkan sedih dengan fenomena anak-anak sekarang yang lebih mudah hafal lagu-lagu orang dewasa dibanding lagu anak-anak. Parahnya lagi, lirik lagu dangdut 'masa kini' seringnya kasar/jorok atau apa ya istilahnya...bikin risih telinga yang dengarlah intinya :'( Rasanya sulit sekali menemukan anak-anak yang suka karaoke lagu anak-anak yang sesuai usia mereka, misalnya balonku ada lima, kupu-kupu yang lucu, pelangi, bintang kecil apalagi twinkle twinkle little star ya :'(
Pertanyaan saya, kok orang tua mereka santai ya bahkan bangga kalo anakknya berani karaoke lagu dangdut terbaru (minggu lalu waktu belanja di swalayan, ada anak usia sekitar 6-7 th dapat hadiah karena berani nyanyi lagu 'buka sithik joss' dan ibu ayahnya memeluk trus menciumi anaknya karena dapat hadiah). Apa yang ada di benak pikiran mereka dengan kemampuan anaknya menghafal lagu dangdut yang 'kebanyakan' liriknya (maaf) kurang patut untuk didengar? Tahukah mereka isi lirik lagu-lagu tersebut sedikit banyak akan meracuni pola pikir mereka nantinya? bahwa anak-anak mereka akan tumbuh lebih cepat daripada seharusnya, bahwa masa kanak-kanak mereka mungkin akan berlalu tanpa mengenal dunia anak karena mereka sudah langsung melompat ke dunia dewasa dan lebih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain.
Saya memang orang tua baru, anak saya baru 9 bulan, tapi saya ngeri kalau anak saya sering mendengar lagu dangdut masa kini yang saya saja sebagai orang dewasa malu untuk mendengarnya, apalagi anak yang belum mengerti banyak hal, yang seharusnya otaknya diisi dengan hal-hal baik, positif dan membangun karakternya. Soal selera musik memang hak masing-masing orang, tetapi menurut saya alangkah lebih baiknya jika sebagai orang tua kita lebih bijaksana dalam mengenalkan keragaman jenis musik/lainnya. Televisi sebagai media murah meriah memang sulit dibendung pengaruhnya tanpa komitmen dari keluarga, misal orang tua dan anak serta anggota keluarga lainnya sepakat tidak menonton acara untuk orang dewasa jika anak sedang di rumah atau selalu mendampingi anak saat mereka menonton televisi. Menyalahkan mediapun sulit karena mencari keuntungan sudah menjadi tujuan mereka tanpa mempertibangkan dampak(tampaknya). Saya jadi rindu masa kecil saya dulu di mana ada jam khusus untuk tontonan anak-anak, lagu anak-anak dan semua sepertinya ditanyangkan di jam sesuai usia. Tapi kok naif rasanya jika saya membandingkan dunia zaman dulu dengan sekarang. Biarlah zaman berganti, acara televisipun otomatis berganti, biar saja, kita yang menjadi manusia (makhluk yang bisa berpikir dan bermoral) yang harus lebih bijaksana dalam memilihkan tontonan, lagu dan apa saja untuk anak-anak kita. Ingin rasanya mendengar anak-anak menyanyi cicak-cicak di dinding, pamanku datang, dan lagu anak-anak lainnya, bukan oplosan dan kawan-kawannya.
Mohon maaf, tidak maksud saya menilai negatif pada semua lagu dangdut atau para penggemar musik tsb tapi dampak pada anak-anak yang sangat saya sesalkan. Ingin saya memproteksi anak saya agar tidak mendengar musik-musik yang tidak sesuai dengan usianya, tapi apa mungkin saya mengurungnya di dalam rumah sepanjang hari? atau memasang tembok kedap suara? atau lebih ekstrim lagi pindah dari rumah saya sendiri demi menghindari pengaruh buruk lingkungan? jawabnya tentu tidak. Saya akan berusaha mengenalkan lagu anak-anak untuk anak saya, meminimalisir bahkan men-skip acara-acara TV yang ada musik dangdutnya bahkan tidak memperbolehkannya menonton televisi dan membatasi pergaulannya dengan anak-anak sekitar yang (maaf) sudah terkontaminasi seleranya dengan musik dangdut masa kini. Bagi sebagian besar orang mungkin musik dangdut memang mudah dicerna bahasanya, merakyat sampai ke lapisan paling bawah masyarakat dan murah meriah, tapi (maaf) tidak untuk saya dan anak saya dan untuk keluarga saya tentunya.
Hmm, biar deh berantakan tulisan saya ini, tp cukup melegakan untuk mengeluarkan uneg2 yang menggumpal agar tidak jadi sesal jika tidak dituliskan.
Semangat pagiiii :)
Oke lupakan soal toleransi di atas, yang lebih saya cermati adalah ternyata lagu yang dinyanyikan oleh si anak (yang terdengar sampai kamar saya yang letaknya di belakang) adalah lagu dangdut yang sekarang sedang 'in' karena menjadi soundtrack sebuah acara di salah satu TV swasta di Indonesia. Diawali dengan oplosan, pokoke joged dan entah apa lagi judulnya. Terlepas dangdut bukan selera musik saya, saya sangat prihatin, miris bahkan sedih dengan fenomena anak-anak sekarang yang lebih mudah hafal lagu-lagu orang dewasa dibanding lagu anak-anak. Parahnya lagi, lirik lagu dangdut 'masa kini' seringnya kasar/jorok atau apa ya istilahnya...bikin risih telinga yang dengarlah intinya :'( Rasanya sulit sekali menemukan anak-anak yang suka karaoke lagu anak-anak yang sesuai usia mereka, misalnya balonku ada lima, kupu-kupu yang lucu, pelangi, bintang kecil apalagi twinkle twinkle little star ya :'(
Pertanyaan saya, kok orang tua mereka santai ya bahkan bangga kalo anakknya berani karaoke lagu dangdut terbaru (minggu lalu waktu belanja di swalayan, ada anak usia sekitar 6-7 th dapat hadiah karena berani nyanyi lagu 'buka sithik joss' dan ibu ayahnya memeluk trus menciumi anaknya karena dapat hadiah). Apa yang ada di benak pikiran mereka dengan kemampuan anaknya menghafal lagu dangdut yang 'kebanyakan' liriknya (maaf) kurang patut untuk didengar? Tahukah mereka isi lirik lagu-lagu tersebut sedikit banyak akan meracuni pola pikir mereka nantinya? bahwa anak-anak mereka akan tumbuh lebih cepat daripada seharusnya, bahwa masa kanak-kanak mereka mungkin akan berlalu tanpa mengenal dunia anak karena mereka sudah langsung melompat ke dunia dewasa dan lebih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain.
Saya memang orang tua baru, anak saya baru 9 bulan, tapi saya ngeri kalau anak saya sering mendengar lagu dangdut masa kini yang saya saja sebagai orang dewasa malu untuk mendengarnya, apalagi anak yang belum mengerti banyak hal, yang seharusnya otaknya diisi dengan hal-hal baik, positif dan membangun karakternya. Soal selera musik memang hak masing-masing orang, tetapi menurut saya alangkah lebih baiknya jika sebagai orang tua kita lebih bijaksana dalam mengenalkan keragaman jenis musik/lainnya. Televisi sebagai media murah meriah memang sulit dibendung pengaruhnya tanpa komitmen dari keluarga, misal orang tua dan anak serta anggota keluarga lainnya sepakat tidak menonton acara untuk orang dewasa jika anak sedang di rumah atau selalu mendampingi anak saat mereka menonton televisi. Menyalahkan mediapun sulit karena mencari keuntungan sudah menjadi tujuan mereka tanpa mempertibangkan dampak(tampaknya). Saya jadi rindu masa kecil saya dulu di mana ada jam khusus untuk tontonan anak-anak, lagu anak-anak dan semua sepertinya ditanyangkan di jam sesuai usia. Tapi kok naif rasanya jika saya membandingkan dunia zaman dulu dengan sekarang. Biarlah zaman berganti, acara televisipun otomatis berganti, biar saja, kita yang menjadi manusia (makhluk yang bisa berpikir dan bermoral) yang harus lebih bijaksana dalam memilihkan tontonan, lagu dan apa saja untuk anak-anak kita. Ingin rasanya mendengar anak-anak menyanyi cicak-cicak di dinding, pamanku datang, dan lagu anak-anak lainnya, bukan oplosan dan kawan-kawannya.
Mohon maaf, tidak maksud saya menilai negatif pada semua lagu dangdut atau para penggemar musik tsb tapi dampak pada anak-anak yang sangat saya sesalkan. Ingin saya memproteksi anak saya agar tidak mendengar musik-musik yang tidak sesuai dengan usianya, tapi apa mungkin saya mengurungnya di dalam rumah sepanjang hari? atau memasang tembok kedap suara? atau lebih ekstrim lagi pindah dari rumah saya sendiri demi menghindari pengaruh buruk lingkungan? jawabnya tentu tidak. Saya akan berusaha mengenalkan lagu anak-anak untuk anak saya, meminimalisir bahkan men-skip acara-acara TV yang ada musik dangdutnya bahkan tidak memperbolehkannya menonton televisi dan membatasi pergaulannya dengan anak-anak sekitar yang (maaf) sudah terkontaminasi seleranya dengan musik dangdut masa kini. Bagi sebagian besar orang mungkin musik dangdut memang mudah dicerna bahasanya, merakyat sampai ke lapisan paling bawah masyarakat dan murah meriah, tapi (maaf) tidak untuk saya dan anak saya dan untuk keluarga saya tentunya.
Hmm, biar deh berantakan tulisan saya ini, tp cukup melegakan untuk mengeluarkan uneg2 yang menggumpal agar tidak jadi sesal jika tidak dituliskan.
Semangat pagiiii :)
Langganan:
Postingan (Atom)