Melewati perempatan jalan setiap pagi saat berangkat dan pulang dari sekolah menimbulkan rasa iba/prihatin/sedih/entahlah perasaan apa, karena selalu menjumpai sekelompok 'the black'. Entah sebutan apa yang tepat untuk anak2 abg usia belasan awal (perkiraan pribadi) yang hampir selalu 'berkeliaran' di sekitar perempatan jalan, saya menyebut mereka 'the black' lebih karena memang kaos/baju mereka memang serba hitam. Saat melihat mereka, yang terlintas di benak saya adalah apa yang mereka cari? apa mereka tidak punya tujuan hidup? apa mereka hanya malas sekolah sehingga ada di jalanan?lalu ke mana orang tua/keluarga mereka?.
Lain lagi, saat saya berdiskusi tentang hal ini dengan seorang teman, dia 'lagi-lagi' seperti pada umumnya orang, menyalahkan pemerintah yang tidak menindak mereka. Secara umum,masyarakat menyalahkan pemerintah untuk hal ini, tapi saya tidak demikian sepenuhnya karena saya tahu dinas sosial rutin mengadakan operasi 'mengamankan'mereka tetapi mereka kembali ke jalanan lagi setelah memberi mereka bimbingan. Saya selalu bertanya, ke mana orang tua mereka? di mana keluarganya? apa tidak mungkin mereka di jalan karena tidak punya keluarga? bukan hanya karena keluarganya telah meninggal,tetapi keluarga yang kehilangan fungsinya sebagai keluarga. Keluarga ada tapi tidak ada, orang tua ada tapi tidak ada. Dari survey kecil,the black ada di jalanan karena beberapa faktor : mereka memang tidak punya keluarga (dalam arti sesungguhnya), keluarga mereka tidak peduli pada mereka, terpengaruh teman sepermainan, dsb.
Keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang, tempat terbaik untuk mencurahkan kasih sayang, tempat terbaik untuk belajar nilai(sosialisasi primer), dsb→sayangnya, banyak keluarga yang tidak berfungsi baik sehingga menghasilkan anak-anak 'blast' atau the black ini. Muncul dalam benak saya, alangkah baiknya jika pemerintah mengadakan program pra nikah yang wajib diikuti oleh pasangan mempelai, supaya mereka tahu tujuan pernikahan,tujuan dibentuknya keluarga dan apa fungsi keluarga terhadap anak. Jadi, saat mereka menjadi orang tua, ada bekal yang mereka tahu untuk menjadi orang tua.
Menikah tidak hanya sebagai legalisasi suatu hubungan antara laki-laki dan perempuan saja, tetapi juga fase baru kehidupan dengan tanggung jawab berbeda terhadap diri sendiri dan juga keturunannya. Bahwa menjadi orang tua tidak hanya sekedar mendapat panggilan ayah atau ibu, tapi juga menjalankan peran sebagai ayah dan ibu untuk anak-anaknya. Jika keluarga berfungsi baik, maka anak akan menjadi baik, sebaliknya anak akan menjadi kurang(tidak) baik jika fungsi keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya.